TERIMA KASIH PARA MUJAHID
Terima Kasih Para Mujahid
oleh : H. Mas’oed Abidin
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
Perwakilan Sumatera Barat di Padang
TERIMA KASIH PARA MUJAHID
Alhamdulillahi rabbil `alamiin. Segala puji teruntuk bagi Allah, Rabb – Penguasa seluruh alam, suatu kalimat yang paling pantas diucapkan sebagai tanda syukur atas segala anugerah dan Rahmat dari-Nya.
Terima kasih secara tulus disampaikan, sebagai pengiring ucapan syukur itu, kepada semua pihak — terutama kaum Muslimin — yang satu persatu tentu tidak mungkin disebutkan, atas amalan ikhlas yang ditanam.
Berkali-kali kata terima kasih terloncat secara spontan dari lubuk hati yang bersih, seringkali diiringi deraian air mata. Bukannya air mata sedih karena duka, tetapi air mata bahagia lantaran kata berjawab, gayung bersambut jua adanya. Percikan air mata membasahi kalbu MUKMIN, tersebab besarnya peluang Rahmat Allah yang ditumpahkan untuk kita semua di daerah ini — khususnya Sumatera Barat — yang sedari dulu bergelar Serambi Mekkah.
Minangkabau panggilan akrab sejak dulu, di daerah Sumatera Barat wilayahnya kini, di dalam Pulau Perca atau Pulau Sumatera yang pernah lebih dikenal dengan Pulau Andalas, seakan pengganti Andalusia tempat Islam pernah jaya pada tujuh abad yang silam.
Sungguh di sini kita hidup, dalam jajaran pulau-pulau Nusantara yang membentuk jalinan tanah air tercinta Indonesia, dengan keanekaragaman adat dan bahasa, membentuk Bhineka Tunggal Ika, cantik, indah dan kaya. Sebagaimana diungkapkan para pujangga qith-’atun minal jannah fid-dunya atau penaka sepotong syurga yang terletak di dunia. Alhamdulillah, di daerah indah itulah kita ditakdirkan Allah, berada.
Memang, belum seluruh daerah kita maju. Bukan karena sengaja dilupakan atau ditinggalkan. Akan tetapi karena beberapa banyak faktor penyebab. Seperti jauhnya jarak, sulitnya hubungan, kondisi alam dan masyarakat. Kurangnya tenaga, dan juga kekurangan dana.
Di antara daerah tersebut adalah MENTAWAI, yang terletak di sebelah barat Pulau Perca, membentang sepanjang Air Bangis (Pasaman) hingga Muko-muko (Pesisir Selatan), atau praktis sepanjang bibir pantai Sumatera Barat.
Sungguhpun Mentawai terdiri hanya empat kecamatan, yakni Kec. Siberut Utara, Siberut Selatan, Sipora dan Kec. Pagai Utara Selatan, di dalam daerah tingkat II Kabupaten Padang Pariaman. Akan tetapi berjarak lebih kurang antara 90 hingga 120 mil laut dari pantai Padang. Tidak ada hubungan transportasi langsung dari Pariaman (ibu kabupaten) ke gugusan kepulauan ini. Yang ada hanya hubungan kapal perintis atau kapal kayu (antar pulau) dari Muara (Padang) dan Bungus (Teluk Kabung) menuju keempat kecamatan ini. Itupun sampai sekarang (1996), belum ada hubungan rutin setiap hari. Baru terhitung dua atau tiga kali setiap minggunya.
Hubungan transportasi ini sudah lebih maju dibandingkan tiga dasawarsa yang lalu, dimana untuk mendatangi pulau-pulau tersebut hanya ada beberapa kali dalam sebulan.
Walaupun sampai hari ini masih dirasakan sebagai suatu kenyataan, bahwa belum ada transportasi laut yang langsung menghubungkan ke empat kecamatan, dan pula tidak ada hubungan darat antar kecamatan tersebut. Kondisi ini mau tidak mau menjadikan satu kecamatan terputus hubungan dengan kecamatan lainnya. Namun dalam waktu-waktu akhir ini, secara berangsur tetapi pasti hubungan transportasi antar kecamatan mulai dikembangkan. Seperti dengan penggabungan izin pelayaran Padang — Sioban — Sikakap pp. di gugusan Mentawai Selatan, serta Padang — Muara Siberut — Muara Sikabaluan pp di Mentawai Sebelah Utara.
Masih terasa sulit untuk mendatangi satu kecamatan di Selatan dari kecamatan di utara kepulauan ini. Kecuali dengan boat-boat penduduk atau pedagang yang di-charter.
Boat-boat itu hanya berkekuatan 15-25 PK, dengan perahu kayu bermuatan antara 8 sampai 10 orang. Dengan resiko yang cukup berat, basah di waktu hujan atau kepanasan di bawah terik matahari di tengah laut. Dan perubahan cuaca seketika, angin dan badai bisa menerpa. Masih terasa ringan kalau pelayaran itu berada di pantai timur, antara Mentawai dan Sumatera, karena ombaknya tidak terlalu besar. Namun sulit diterka bila pelayaran harus mendatangi daerah-daerah (desa) di pantai barat Kepulauan Mentawai ini, seperti Simatalu, Simalegi dan Sigapokna (pantai barat Siberut Utara), atau Sagalubbek, Pasakiat Taileleu (bagian barat Siberut Selatan), punya tantangan tersendiri.
Ada pula di jantung pedalaman pulau Siberut, seperti Sotboyak dan Mongonpoula (Siberut Utara) atau Matotonan, Madobak, Ugai dan Rogdog (Siberut Selatan). Di sana ada pejuang-pejuang ummat yang memikul beban jihad da’wah ilaa Allah, atau ajakan kepada agama yang diturunkan oleh Allah, untuk membawa masyarakat ke arah kemajuan dan perkembangan di era pembangunan bangsa.
Gelombang besar sulit mereda, tidak jarang tingginya mencapai 2 hingga 3 meter, sebagaimana sering diumumkan dalam prakiraan cuaca sesudah siaran-siaran berita, karena letaknya di pantai barat yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia (Samudera Hindia). Hanya beberapa bulan dalam setahun, lautnya agak bersahabat, jika yang bertiup adalah angin timur.
Begitulah yang kita temui jika mendatangi daerah-daerah seperti: Bettumonga (artinya ombak berdebur), Berimanua, Taraet, Boshua (di barat Sipora) atau Tapak, Bulasat, Sinakak dan daerah lainnya di pantai barat Pagai Utara/Selatan.
Sungguhpun sulit, akan tetapi di daerah-daerah tersebut masih tetap ada tenaga-tenaga pembina ummat. Yang dengan ketekunan dan kesadaran yang tinggi dan dalam serba keterbatasan yang dimiliki, selalu berusaha membina masyarakatnya. Mereka adalah “mujahid da’wah”.
Mentawai adalah daerah yang “minta di-awai”. Artinya perlu dijamah dengan cara-cara yang khusus dan terus-menerus. Begitu di antara ungkapan yang disampaikan oleh Zainal Bakar, SH di kala menjabat Bupati Kepala Daerah Tk. II Kab. Padang Pariaman. Bahkan setiap kali bertemu, beliau tidak lupa memberikan dorongan moril yang besar ke Mentawai.
Prof. Drs. Harun Zain, di kala menjabat Gubernur Kepala Daerah Tk. I Prop. Sumatera Barat, melakukan penjamahan yang lebih khusus. Mengangkat kepala suku Sekudai sebagai saripok atau saudara, supaya jangan ada lagi perbedaan dirasakan antara Tanah Tepi dengan putera Mentawai ). Paling berkesan, usaha Ibu Ratna Sari Harun Zain, dengan mengirimkan enam belas pemuda-pemuda Mentawai bersekolah ke Jawa, di antaranya ke Pesantren Pertanian Darul Fallah Bogor, sekitar dua puluh tahun yang lalu.
Hasilnya dirasakan hari ini. Di antara yang terdidik itu, sudah ada yang kembali ke kampung halaman mereka di Kepulauan Mentawai dengan kedudukan sebagai kepala desa, guru agama, da’i, pedagang, bahkan ada yang di ABRI. Dan menjadi pemuka-pemuka masyarakat.
Usaha-usaha besar demikian dilakukan oleh pribadi-pribadi yang memiliki kepedulian yang tinggi untuk membentuk SDM Mentawai dalam berbagai bidang. Dengan mendirikan panti-panti asuhan anak-anak Mentawai. Menyekolahkan mereka bahkan sampai ke luar Sumatera Barat dan menyantuni mereka menurut kadar kemampuan yang ada. Jumlahnya hari ini sudah puluhan orang yang tersebar menuntut ilmu. Ada yang di Jawa, Medan, Pekanbaru dan bahkan di Kalimantan. Belum dihitung lagi yang tengah menuntut ilmu di Tanah Tepi, bahkan sudah di perguruan tinggi di Padang dan Bukittinggi.
Bakri Tasirebbeb, tahun tujuh puluhan mulai mendirikan Yayasan Pembangunan Masyarakat Mentawai. Yayasan itu tetap bergerak hingga hari ini, tentu memiliki catatan-catatan lengkap tentang jumlah anak-anak yang dididik di bawah asuhannya.
Keluarga-keluarga di Pariaman, Padang dan lain-lain sampai ke pelosok dusun telah membuka pintu untuk tempat tinggal anak-anak Mentawai yang mau bersekolah.
Panti-panti asuhan anak Mentawai di Gadut dan beberapa daerah seperti Talaok, Pesisir Selatan dan lain-lain, telah menyimpan nama-nama besar para pendiri dan penyokong sejak berdirinya hingga kini. Tidak cukup halaman tersedia, untuk menuliskan satu per satu nama-nama yang telah berperan itu.
Senyatanya para penganjur, penggerak dan motivator itu, telah berbuat besar menurut kadar kemampuan yang ada. Didorong oleh cita-cita dan semangat yang tinggi, “inna’llaha laa yughayyiru ma bi quamin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” ), artinya bahwa Allah sunguh-sungguh tidak akan merobah satu kaum, sehingga kaum itu sendiri berusaha merubah apa yang ada pada anfus/diri mereka sendiri. Maknanya adalah usaha besar ke arah pembentukan Sumber Daya Manusia.
Pada hakekatnya, semua pribadi-pribadi itu adalah para mujahid yang memikul jihad yang besar, yaitu da’wah ilal khairi, yaitu usaha yang tidak henti-hentinya mengajak kepada kebajikan dan kemajuan, sebagaimana diwajibkan oleh Islam (Al Quran).
Da’wah Islam ke Mentawai tidak dimulai hari ini. Perjalanannya telah menempuh waktu puluhan tahun lalu.
Inyik Adam BB, seorang ulama dan penda’wah terkenal di Padang Panjang yang mewariskan Bustanul Ulum dan orang tua dari Huriyyah Adam, termasuk seorang yang sangat aktif dalam membina da’wah Islam di Mentawai pada tahun 1956. Banyak kader-kader Mentawai yang dicetak beliau. Diantaranya suku Sakerebau di Boshe Siberut Utara.
Ibu Rumah El Yunusyiah, pendiri Diniyah Putri Padang Panjang, pada tahun lima puluhan itu, sengaja menyediakan kelas khusus di perguruan terkenal itu, untuk penampungan pendidikan putri-putri Mentawai. Di antaranya hingga sekarang masih hidup di Mentawai Ibu Meili di Simalegi, aktif membina ummatnya, walapun sudah termasuk sepuh.
Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, Mohammad Hatta memberi nama Desa Berkat kepada sebuah desa di seberang Sikakap (Pagai Utara Selatan), di kala seluruh penduduk desa itu menyatakan memeluk Islam (1950), walaupun kelak perlu dicatat penduduk desa itu pula yang dimurtadkan oleh kegigihan misionaris.
Catatan penting untuk pelajaran berharga, bahwa sebenarnya orang Mentawai lebih akrab dalam menerima Islam. Akan tetapi kegagalan selalu mengintai apabila usaha pembinaan keagamaan masyarakat muslim (muallaf) Mentawai terabaikan.
Orang Mentawai sebenarnya telah mulai bersentuhan komunikasi dengan orang-orang Islam dari Tanah Tepi sejak tiga ratus tujuh puluh lima tahun yang lalu. Yakni sejak orang Tiku mulai berhubungan dagang dengan mereka (1621). Begitu kalau kita menyimak lebih dalam buah tulisan Stefano Coronese, seorang peneliti misionaris dalam bukunya Kebudayaan Suku Mentawai, di bawah judul Kontak Dengan Suku-Suku Tetangga.
Sungguhpun pembahasan judul itu diawali dengan kalimat “Masuknya agama Hindu dan Islam ke Indonesia, tidak dijumpai di Mentawai…. dan seterusnya”, akan tetapi diakuinya bahwa “Hubungan dengan suku-suku tetangga sudah ada pada masa silam”.
Dengan demikian dapat disarikan bahwa :
(1) Orang Mentawai bukanlah orang yang sulit berhubungan dengan suku-suku lain, sebagaimana lazimnya ditemui pada suku-suku terbelakang di belahan bumi. Malah orang Mentawai adalah orang yang mudah berhubungan dan mudah bergaul dengan pendatang, cepat berasimilasi itulah yang terlihat hingga kini.
(2) Suku-suku tetangga dari Mentawai, terutama Enggano, Bengkulu, Aceh dan Minangkabau (Tiku) tiada lain adalah suku-suku yang telah lama menganut Islam, bahkan berabad-abad sebelum orang Eropa menjejakkan kakinya di bumi Nusantara Indonesia.
(3) Mentawai sudah didiami oleh orang-orang Islam (Melayu) duaratus tahun lebih dahulu (1792, di Tunggul, Selat Sikakap, Pagai) menurut John Crisp ). Padahal Misionaris Kristen/Protestan baru mengenal Mentawai tahun 1901 di bawah Pendeta August Lett dan rekannya A. Kramer dari Jerman ). Dan Pastor Katolik baru menjejakkan kaki di kepulauan ini tahun 1954 di bawah Pastor Aurelio Cannizzaro ). Bedanya hanya, Misionaris Kristen masuk dengan Pendeta dan Pastor, sedang Islam masuk melalui orang-orang penganut Islam itu. Sebab tugas da’wah adalah tugas setiap Muslim dimanapun mereka berada. Bukan oleh MISI yang semata-mata tugasnya mengajak/menarik ummatnya.
(4) Bahkan orang Mentawai telah berasimilasi dengan pendatang-pendatang Muslim dari Melayu, Aceh, Bugis terutama di Pasapuat (Sikakap) sedari 1879 ). Juga di Labuhan Bajau (Siberut Utara) yang memiliki teluk-teluk yang dalam, yang dikatakan sudah sejak dahulu ditunggui oleh perampok ) dari Bugis dan Aceh.
(5) Orang Mentawai memiliki nilai-nilai budaya yang tinggi. Identik dengan ajaran Islam. Mereka sangat menghargai kehormatan wanita. Menganggap zina suatu perbuatan tercela, terkutuk dan tidak bisa ditolerir. Sungguhpun orang Mentawai mudah digauli secara baik, namun perzinaan (perkosaan, ataupun hubungan seksual diluar pernikahan) selalu di tentang. Dan hukumannya bisa berakhir dengan kematian. Kalaulah cerita Stefano Coronese benar, tentang terbunuhnya orang-orang Bugis di Silabu karena memperkosa dan merampok wanita-wanita Mentawai ), maka catatan itu dapat menjadi bukti, betapa orang-orang Mentawai sejak dulu menghormati hak martabat sebagai nilai budaya.
(6) Orang Mentawai adalah orang yang juga mempunyai jiwa pejuang dan anti penjajahan. Itu terbukti dengan terbunuhnya pendeta Jerman pertama yang datang ke Mentawai. Dan itu terjadi manakala Pendeta bertugas sebagai perantara serdadu Belanda ).
Tentang orang Mentawai juga sangat tidak senang dengan penjajah asing dan ikut andil dalam perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia, kiranya dengan jelas dapat dibuktikan. Antara lain, tanyalah angkatan 45 yang ikut terjun di front Sumatera Barat. Dalam masa Perang Kemerdekaan dan Clash ke II (1945-1949) di Padang terkenal Kompi Mentawai yang kebanyakan mereka adalah pakai tatto ). Bukti lain adalah terdapatnya kuburan serdadu Belanda di Sioban Sipora. Sungguhpun kuburan itu sekarang sudah banyak yang digusur karena di sampingnya dibangun Gedung SMP Sioban.
Karena itu, salahlah kalau kita mengira bahwa Mentawai baru disentuh oleh Islam mulai tahun 1954, atau sesudah adanya Rapat Tiga Agama di pusat-pusat kecamatan di Mentawai dalam menghapus Arat Sabulungan ).
Pemimpin-pemimpin pemerintahan setingkat Assisten Wedana yang bertugas di Mentawai, sejak masa tahun 1950 hingga 1956 telah melakukan pembangunan fisik dan spiritual masyarakat kepulauan ini.
Ajakan-ajakan pemerintah tidak pernah ditentang oleh penduduk Mentawai. Pertanda tingkat kesadaran dan kepatuhan bernegara cukup dimiliki mereka.
Keinginan merubah nasib, dan meniru yang lebih baik serta berhasil cukup diminati oleh masyarakat asli Mentawai.
Suatu keberhasilan dari Asisten Wedana Suyuti di Sikabaluan (Siberut Utara) hingga ke Simatalu dan Simalegi, menjadi buah bibir masyarakat hingga kini. Tidak hanya sekedar buah bibir, anjurannya untuk menanami pantai dengan kebun kelapa bisa dinikmati hingga sekarang.
Motivasi yang diberikan diselipkan melalui lagu anak-anak sekolah dasar di daerahnya. Hingga kini, bait lagu itu tetap didendangkan. Antara lain berisikan bait-bait dalam bahasa daerah: urem urem toitet, kabulagan di butena. Artinya kira-kira, tanam-tanamlah kelapa, ada uang di pucuknya Dengan sebait nada ini, Mentawai menjadi penghasil kopra sampai sekarang, dan sampai abad dua puluh satu Insya Allah.
Lain lagi dengan Asisten Wedana di Siberut Selatan (Muara Siberut). Dia punya kiat menyuruh orang Mentawai berpakaian rapi. Supaya sama dengan saudara-saudaranya di Tanah Tepi. Sampai ajakan itu, hampir-hampir merupakan suatu peraturan setempat. Sebagai diceritakan oleh orang tua-tua di Muara Siberut ), bila orang Mentawai di hulu Sararekat (Rogdog, Madobag, Matotonan) mendengar boat Ass. Wedana dari Muara datang, maka penduduk buru-buru naik ke rumah, mengganti kabit (cawat) dengan pakaian yang pantas.
Lain halnya sekarang, setelah Wisatawan Mancanegara datang berkunjung ke dusun-dusun yang sama, malah yang terjadi sebaliknya. Penduduk berganti baju dengan kabit, karena mengharapkan pendapatan berupa tip (hadiah) untuk difoto sebagai kenangan ). Hal yang ironis di tengah pemukiman Depsos.
Asisten Wedana Abdur Rauf, yang bertugas di Sipora, pada masa jabatannya (1956) berhasil mengajak penduduk Tuapejat untuk mengolah sebuah pulau yang banyak ularnya, menjadi perladangan penduduk. Pulau itu kemudian ditanami tanaman-tanaman tua, buah-buahan, kelapa dan pohon-pohon bermanfaat secara ekonomis. Hasilnya dinikmati penduduk hingga kini. Pulau itupun diberi nama pulau AWERA ) sampai sekarang.
JUNI 1968, Bapak Mohammad Natsir Mantan Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pertama datang ke Sumatera Barat. Beliau diundang oleh Pemda Sumbar (Gubernur Harun Zain) dan Walikota Padang (Letkol Laut Akhirul Yahya), dan mendapatkan julukan spontan dari masyarakat dan Pemda Sumbar dengan panggilan “orang tua kita”. Kedatangan beliau ke Sumatera Barat waktu itu, selain memenuhi undangan Gubernur, juga menghadiri Ulang Tahun Yayasan Kesejahteraan Sumatera Barat di Padang. Kehadiran beliau di daerah ini tepat sekali, di saat kita baru memasuki era baru, Pembangunan Bangsa dan Negara di bawah Orde Baru. Beliau datang memberikan dorongan dan motivasi kepada segenap lapisan masyarakat, bahkan juga di perguruan-perguruan tinggi yang ada di Padang. Formula yang diketengahkan beliau pada waktu itu, adalah “hidupkan da’wah, bangun negeri”.
Pak Natsir (nama yang akrab dipanggilkan terhadap beliau) adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan pendiri dari Yayasan Dewan Dakwah. Dan Dewan Dakwah itu sendiri didirikan di Jakarta pada bulan Februari 1967, sebagai hasil dari Musyawarah Alim Ulama se-DKI Jaya, yang untuk pertama kali berkantor pusat di Masjid Al Munawwarah Kp. Bali I/53 Tanah Abang Jakarta Pusat ).
Dalam setiap kunjungannya beliau selalu mendorong ummat untuk memulai suatu amal nyata, dan menghindarkan diri dari berpangku tangan. Yang akan mengangkat ummat dan mengubah nasib mereka adalah usaha (amal karya) yang mereka telah perbuat dan lakukan jua. “Jangan berhenti tangan mendayung, supaya arus tak membawa hanyut”, begitulah nasehat yang sering disampaikan oleh Pak Natsir saat itu.
Ummat Muslim itu tidak akan bangkit dan berjaya, kecuali melalui usaha nyata (amal-amal khairat) yang mereka tumbuhkan, dan dipelihara terus menerus, sehingga membuahkan hasil yang dinikmati bersama, tidak hanya oleh si penanam bahkan juga oleh orang yang lewat di dekat tanaman itu.
Sebelum beliau berangkat meninggalkan Sumatera Barat, beliau meninggalkan program besar yang segera harus diwujudkan di daerah ini, sesuai dengan kemampuan yang ada. Modalnya, kata beliau,”mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sudah amat cukup untuk memulai”.
Rencana besar yang perlu diujudkan (direalisir) itu ada lima.
(1) Hidupkan semangat, gerakkan tangan, dan tumbuhkan kesejahteraan ummat (masyarakat) melalui keterampilan-keterampilan yang ada. Itu berarti merajinkan kembali tangan-tangan terampil dengan kerajinan tangannya, dan membangunkan pekarangan-pekarangan (lahan) yang tidur menjadi terbuka dan menghidupkan kesejahteraan bagi ummat (masyarakat) yang hidup di atasnya.
(2) Siapkan kembali “puro” ), yang menjadi sumber pendanaan pekerjaan ummat . Yaitu dengan menghidupkan kembali ruhul infaq, menyatukan dan memobilisir zakat, shadaqah dan infaq. Menghimpun dana ummat itu adalah ibadah. Dan meningkatkan nilai ibadah itu dengan mempergunakan dana ummat itu kembali kepada ummat sesuai dengan perintah dan acuan syariat Islam. Ide besar yang terkandung padanya adalah membiasakan ummat untuk berhemat. Dan menghidupkan mereka dalam suasana yang hidup dan memberi hidup. Mengingatkan senantiasa bahwa di dalam hartanya ada tersimpan hak orang lain. Hak itu kadang kalanya milik orang yang memintanya, dan adakalanya menjadi milik dari orang yang tidak mau meminta. Menggulirkan dana ummat kembali untuk ummat, inilah intinya.
(3) Hidupkan kembali madrasah dan pesantren-pesantren Islam yang tengah lesu darah. Madrasah tidak hanya sebagai wadah tempat mendalami satu disiplin ilmu (ilmu agama). Madrasah adalah tempat pembinaan kader-kader pemimpin ummat dan pelopor-pelopor serta penggerak pembangunan bangsa. Ummat tidak boleh dibiarkan hidup dengan menyerahkan diri kepada nasib. Masyarakat yang demikian akan hidup dalam kematian jiwa. Kalau begitu, masyarakat harus disadarkan dengan ilmu pengetahuan. Pengetahuan alam tentang kekayaan alam yang ada di sekitarnya. Pengetahuan tentang usaha-usaha yang bisa berperan meningkatkan kecerdasannya. Pengetahuan tentang sikap jiwa yang perlu dimiliki, bahkan pengetahuan tentang memilah persoalan-persoalan yang dihadapi. Serta bagaimana cara dan usaha mendekati persoalan hidup dalam hidup. Tentu semuanya berkehendak kepada kedalaman pemaham-an terhadap ajaran dan bimbingan Agama. Kita harus mulai dengan menghidupkan kewajiban “belajar seumur hidup”. Karena itu berikan stamina kepada madrasah-madrasah yang mulai lesu darah.
(4) Tumbuhkan Rumah Sakit Islam. Masalah kesehatan ummat adalah penting diperhatikan. Ummat yang jaya adalah yang sehat lahir dan sehat keyakinan agamanya.
(5) Perhatikan selalu pembangunan ummat di Mentawai.
Kelima program itu secara berangsur-angsur segera harus diwujudkan, dengan berusaha kuat untuk menggali segala potensi yang potensial menjadi potensi yang riel. Potensi besar yang dimiliki oleh ummat Islam adalah keyakinan agama yang kokoh, persaudaraan (ukhuwwah), kebersamaan (ta’awun), serta sama-sama bekerja di dalam kerangka kerja sama, serta saling menghormati.
Semua kerangka usaha itu berada di dalam satu jalinan kokoh dan indah, yang disebut Da’wah ilaa Allah.
Kelak, seperempat abad kemudian, tatkala Pak Natsir sudah berada di pembaringannya di dalam perawatan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada 24 Mei 1991, melalui tayangan video-cassette beliau mengingatkan kembali dalam taushiyah (pesan beliau) sebagai berikut;
“Dalam masa enampuluh tahun lebih, kita ummat Islam Indonesia bangkit di berbagai bidang, seperti : bidang sosial, pendidi kan, politik dan ekonomi, yang itu semua melingkupi apa yang kita sebut Da’wah ilaa Allah.”
Sejarah Indonesia menyaksikan sendiri bahwa dalam tiap-tiap perjuangan itu, terutama sejak permulaan abad ini, Islam telah mengambil peranan perintis jalan.
Sejarah menyaksikan !! ).
Dan akhirnya beliau menutup dengan sebuah harapan yang meminta kita untuk menjawabnya.
“Maka mari kita melihat tiap-tiap persoalan yang kita hadapi dari masa ke masa, sekarang atau yang akan datang sebagi ujian, sebagai ibtila’ yang silih berganti. Dan tidak usah kita menyembunyikan diri dari padanya, tetapi kita harus hadapi dengan iman dengan warisan Rasulullah SAW, Kitabullah wa Sunnata Nabiyyih”.
Ada syair dari Syauqi Bey, dalam rangka ini sama-sama mengingatnya:
Tegaklah kamu selama hidup ini sebagai mujahid mempertahankan pendirianmu. Sebab yang sesunguhnya dinamakan hidup itu ialah tak lain dari pada `aqidah dan jihad.
Mudah-mudahan demikianlah, begitulah Beliau mengakhirinya ).
Kini Mentawai sudah memasuki tiga tahun menjadi Kabupaten.
Sudahkah mereka berubah.
Yang terasa adalah denyut dakwah ke daerah ini mulai melambat Penyebabnya tidak semata dukungan materi yang tidak pernah cukup, dan bahkan terasa tidak ada.
Paling terasa adalah kurangnya tenaga dai yang mau bertolak ke sana.
Di samping program Pemerintah Daerah Kabupaten Mentawai sendiri belum lagi mau berpikir seimbang dan sebanding antara pembangunan daerahnya yang memang tertinggal secara fisik dengan pembangunan mental umat dalam beragama yang semestinya menjadi pendorong percepatan pembangunan di seaga sektor riil itu.
Tidak dapat tidak,
Mentawai tetap memanggil ” mae sita ooi”, mari kemari, tapi yang akan menyahutnya tetap ragu dan bimbang.
Wallahu a’lamu bis-shawaab.
Komentar Terakhir