Terimakasih Para Mujahid

Posted in Buku Buya, Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai, Mentawai on Januari 6, 2009 by Buya Masoed Abidin

TERIMA KASIH PARA MUJAHID

Terima Kasih Para Mujahid

oleh : H. Mas’oed Abidin
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
Perwakilan Sumatera Barat di Padang

TERIMA KASIH PARA MUJAHID

Alhamdulillahi rabbil `alamiin. Segala puji teruntuk bagi Allah, Rabb – Penguasa seluruh alam, suatu kalimat yang paling pantas diucapkan sebagai tanda syukur atas segala anugerah dan Rahmat dari-Nya.

Terima kasih secara tulus disampaikan, sebagai pengiring ucapan syukur itu, kepada semua pihak — terutama kaum Muslimin — yang satu persatu tentu tidak mungkin disebutkan, atas amalan ikhlas yang ditanam.

Berkali-kali kata terima kasih terloncat secara spontan dari lubuk hati yang bersih, seringkali diiringi deraian air mata. Bukannya air mata sedih karena duka, tetapi air mata bahagia lantaran kata berjawab, gayung bersambut jua adanya. Percikan air mata membasahi kalbu MUKMIN, tersebab besarnya peluang Rahmat Allah yang ditumpahkan untuk kita semua di daerah ini — khususnya Sumatera Barat — yang sedari dulu bergelar Serambi Mekkah.

Minangkabau panggilan akrab sejak dulu, di daerah Sumatera Barat wilayahnya kini, di dalam Pulau Perca atau Pulau Sumatera yang pernah lebih dikenal dengan Pulau Andalas, seakan pengganti Andalusia tempat Islam pernah jaya pada tujuh abad yang silam.

Sungguh di sini kita hidup, dalam jajaran pulau-pulau Nusantara yang membentuk jalinan tanah air tercinta Indonesia, dengan keanekaragaman adat dan bahasa, membentuk Bhineka Tunggal Ika, cantik, indah dan kaya. Sebagaimana diungkapkan para pujangga qith-’atun minal jannah fid-dunya atau penaka sepotong syurga yang terletak di dunia. Alhamdulillah, di daerah indah itulah kita ditakdirkan Allah, berada.

Memang, belum seluruh daerah kita maju. Bukan karena sengaja dilupakan atau ditinggalkan. Akan tetapi karena beberapa banyak faktor penyebab. Seperti jauhnya jarak, sulitnya hubungan, kondisi alam dan masyarakat. Kurangnya tenaga, dan juga kekurangan dana.

Di antara daerah tersebut adalah MENTAWAI, yang terletak di sebelah barat Pulau Perca, membentang sepanjang Air Bangis (Pasaman) hingga Muko-muko (Pesisir Selatan), atau praktis sepanjang bibir pantai Sumatera Barat.

Sungguhpun Mentawai terdiri hanya empat kecamatan, yakni Kec. Siberut Utara, Siberut Selatan, Sipora dan Kec. Pagai Utara Selatan, di dalam daerah tingkat II Kabupaten Padang Pariaman. Akan tetapi berjarak lebih kurang antara 90 hingga 120 mil laut dari pantai Padang. Tidak ada hubungan transportasi langsung dari Pariaman (ibu kabupaten) ke gugusan kepulauan ini. Yang ada hanya hubungan kapal perintis atau kapal kayu (antar pulau) dari Muara (Padang) dan Bungus (Teluk Kabung) menuju keempat kecamatan ini. Itupun sampai sekarang (1996), belum ada hubungan rutin setiap hari. Baru terhitung dua atau tiga kali setiap minggunya.

Hubungan transportasi ini sudah lebih maju dibandingkan tiga dasawarsa yang lalu, dimana untuk mendatangi pulau-pulau tersebut hanya ada beberapa kali dalam sebulan.

Walaupun sampai hari ini masih dirasakan sebagai suatu kenyataan, bahwa belum ada transportasi laut yang langsung menghubungkan ke empat kecamatan, dan pula tidak ada hubungan darat antar kecamatan tersebut. Kondisi ini mau tidak mau menjadikan satu kecamatan terputus hubungan dengan kecamatan lainnya. Namun dalam waktu-waktu akhir ini, secara berangsur tetapi pasti hubungan transportasi antar kecamatan mulai dikembangkan. Seperti dengan penggabungan izin pelayaran Padang — Sioban — Sikakap pp. di gugusan Mentawai Selatan, serta Padang — Muara Siberut — Muara Sikabaluan pp di Mentawai Sebelah Utara.

Masih terasa sulit untuk mendatangi satu kecamatan di Selatan dari kecamatan di utara kepulauan ini. Kecuali dengan boat-boat penduduk atau pedagang yang di-charter.

Boat-boat itu hanya berkekuatan 15-25 PK, dengan perahu kayu bermuatan antara 8 sampai 10 orang. Dengan resiko yang cukup berat, basah di waktu hujan atau kepanasan di bawah terik matahari di tengah laut. Dan perubahan cuaca seketika, angin dan badai bisa menerpa. Masih terasa ringan kalau pelayaran itu berada di pantai timur, antara Mentawai dan Sumatera, karena ombaknya tidak terlalu besar. Namun sulit diterka bila pelayaran harus mendatangi daerah-daerah (desa) di pantai barat Kepulauan Mentawai ini, seperti Simatalu, Simalegi dan Sigapokna (pantai barat Siberut Utara), atau Sagalubbek, Pasakiat Taileleu (bagian barat Siberut Selatan), punya tantangan tersendiri.

Ada pula di jantung pedalaman pulau Siberut, seperti Sotboyak dan Mongonpoula (Siberut Utara) atau Matotonan, Madobak, Ugai dan Rogdog (Siberut Selatan). Di sana ada pejuang-pejuang ummat yang memikul beban jihad da’wah ilaa Allah, atau ajakan kepada agama yang diturunkan oleh Allah, untuk membawa masyarakat ke arah kemajuan dan perkembangan di era pembangunan bangsa.

Gelombang besar sulit mereda, tidak jarang tingginya mencapai 2 hingga 3 meter, sebagaimana sering diumumkan dalam prakiraan cuaca sesudah siaran-siaran berita, karena letaknya di pantai barat yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia (Samudera Hindia). Hanya beberapa bulan dalam setahun, lautnya agak bersahabat, jika yang bertiup adalah angin timur.

Begitulah yang kita temui jika mendatangi daerah-daerah seperti: Bettumonga (artinya ombak berdebur), Berimanua, Taraet, Boshua (di barat Sipora) atau Tapak, Bulasat, Sinakak dan daerah lainnya di pantai barat Pagai Utara/Selatan.

Sungguhpun sulit, akan tetapi di daerah-daerah tersebut masih tetap ada tenaga-tenaga pembina ummat. Yang dengan ketekunan dan kesadaran yang tinggi dan dalam serba keterbatasan yang dimiliki, selalu berusaha membina masyarakatnya. Mereka adalah “mujahid da’wah”.

Mentawai adalah daerah yang “minta di-awai”. Artinya perlu dijamah dengan cara-cara yang khusus dan terus-menerus. Begitu di antara ungkapan yang disampaikan oleh Zainal Bakar, SH di kala menjabat Bupati Kepala Daerah Tk. II Kab. Padang Pariaman. Bahkan setiap kali bertemu, beliau tidak lupa memberikan dorongan moril yang besar ke Mentawai.
Prof. Drs. Harun Zain, di kala menjabat Gubernur Kepala Daerah Tk. I Prop. Sumatera Barat, melakukan penjamahan yang lebih khusus. Mengangkat kepala suku Sekudai sebagai saripok atau saudara, supaya jangan ada lagi perbedaan dirasakan antara Tanah Tepi dengan putera Mentawai ). Paling berkesan, usaha Ibu Ratna Sari Harun Zain, dengan mengirimkan enam belas pemuda-pemuda Mentawai bersekolah ke Jawa, di antaranya ke Pesantren Pertanian Darul Fallah Bogor, sekitar dua puluh tahun yang lalu.
Hasilnya dirasakan hari ini. Di antara yang terdidik itu, sudah ada yang kembali ke kampung halaman mereka di Kepulauan Mentawai dengan kedudukan sebagai kepala desa, guru agama, da’i, pedagang, bahkan ada yang di ABRI. Dan menjadi pemuka-pemuka masyarakat.

Usaha-usaha besar demikian dilakukan oleh pribadi-pribadi yang memiliki kepedulian yang tinggi untuk membentuk SDM Mentawai dalam berbagai bidang. Dengan mendirikan panti-panti asuhan anak-anak Mentawai. Menyekolahkan mereka bahkan sampai ke luar Sumatera Barat dan menyantuni mereka menurut kadar kemampuan yang ada. Jumlahnya hari ini sudah puluhan orang yang tersebar menuntut ilmu. Ada yang di Jawa, Medan, Pekanbaru dan bahkan di Kalimantan. Belum dihitung lagi yang tengah menuntut ilmu di Tanah Tepi, bahkan sudah di perguruan tinggi di Padang dan Bukittinggi.

Bakri Tasirebbeb, tahun tujuh puluhan mulai mendirikan Yayasan Pembangunan Masyarakat Mentawai. Yayasan itu tetap bergerak hingga hari ini, tentu memiliki catatan-catatan lengkap tentang jumlah anak-anak yang dididik di bawah asuhannya.
Keluarga-keluarga di Pariaman, Padang dan lain-lain sampai ke pelosok dusun telah membuka pintu untuk tempat tinggal anak-anak Mentawai yang mau bersekolah.
Panti-panti asuhan anak Mentawai di Gadut dan beberapa daerah seperti Talaok, Pesisir Selatan dan lain-lain, telah menyimpan nama-nama besar para pendiri dan penyokong sejak berdirinya hingga kini. Tidak cukup halaman tersedia, untuk menuliskan satu per satu nama-nama yang telah berperan itu.
Senyatanya para penganjur, penggerak dan motivator itu, telah berbuat besar menurut kadar kemampuan yang ada. Didorong oleh cita-cita dan semangat yang tinggi, “inna’llaha laa yughayyiru ma bi quamin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” ), artinya bahwa Allah sunguh-sungguh tidak akan merobah satu kaum, sehingga kaum itu sendiri berusaha merubah apa yang ada pada anfus/diri mereka sendiri. Maknanya adalah usaha besar ke arah pembentukan Sumber Daya Manusia.
Pada hakekatnya, semua pribadi-pribadi itu adalah para mujahid yang memikul jihad yang besar, yaitu da’wah ilal khairi, yaitu usaha yang tidak henti-hentinya mengajak kepada kebajikan dan kemajuan, sebagaimana diwajibkan oleh Islam (Al Quran).

Da’wah Islam ke Mentawai tidak dimulai hari ini. Perjalanannya telah menempuh waktu puluhan tahun lalu.
Inyik Adam BB, seorang ulama dan penda’wah terkenal di Padang Panjang yang mewariskan Bustanul Ulum dan orang tua dari Huriyyah Adam, termasuk seorang yang sangat aktif dalam membina da’wah Islam di Mentawai pada tahun 1956. Banyak kader-kader Mentawai yang dicetak beliau. Diantaranya suku Sakerebau di Boshe Siberut Utara.
Ibu Rumah El Yunusyiah, pendiri Diniyah Putri Padang Panjang, pada tahun lima puluhan itu, sengaja menyediakan kelas khusus di perguruan terkenal itu, untuk penampungan pendidikan putri-putri Mentawai. Di antaranya hingga sekarang masih hidup di Mentawai Ibu Meili di Simalegi, aktif membina ummatnya, walapun sudah termasuk sepuh.

Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, Mohammad Hatta memberi nama Desa Berkat kepada sebuah desa di seberang Sikakap (Pagai Utara Selatan), di kala seluruh penduduk desa itu menyatakan memeluk Islam (1950), walaupun kelak perlu dicatat penduduk desa itu pula yang dimurtadkan oleh kegigihan misionaris.

Catatan penting untuk pelajaran berharga, bahwa sebenarnya orang Mentawai lebih akrab dalam menerima Islam. Akan tetapi kegagalan selalu mengintai apabila usaha pembinaan keagamaan masyarakat muslim (muallaf) Mentawai terabaikan.

Orang Mentawai sebenarnya telah mulai bersentuhan komunikasi dengan orang-orang Islam dari Tanah Tepi sejak tiga ratus tujuh puluh lima tahun yang lalu. Yakni sejak orang Tiku mulai berhubungan dagang dengan mereka (1621). Begitu kalau kita menyimak lebih dalam buah tulisan Stefano Coronese, seorang peneliti misionaris dalam bukunya Kebudayaan Suku Mentawai,  di bawah judul Kontak Dengan Suku-Suku Tetangga.
Sungguhpun pembahasan judul itu diawali dengan kalimat “Masuknya agama Hindu dan Islam ke Indonesia, tidak dijumpai di Mentawai…. dan seterusnya”, akan tetapi diakuinya bahwa “Hubungan dengan suku-suku tetangga sudah ada pada masa silam”.
Dengan demikian dapat disarikan bahwa :
(1) Orang Mentawai bukanlah orang yang sulit berhubungan dengan suku-suku lain, sebagaimana lazimnya ditemui pada suku-suku terbelakang di belahan bumi. Malah orang Mentawai adalah orang yang mudah berhubungan dan mudah bergaul dengan pendatang, cepat berasimilasi itulah yang terlihat hingga kini.
(2) Suku-suku tetangga dari Mentawai, terutama Enggano, Bengkulu, Aceh dan Minangkabau (Tiku) tiada lain adalah suku-suku yang telah lama menganut Islam, bahkan berabad-abad sebelum orang Eropa menjejakkan kakinya di bumi Nusantara Indonesia.
(3) Mentawai sudah didiami oleh orang-orang Islam (Melayu) duaratus tahun lebih dahulu (1792, di Tunggul, Selat Sikakap, Pagai) menurut John Crisp ). Padahal Misionaris Kristen/Protestan baru mengenal Mentawai tahun 1901 di bawah Pendeta August Lett dan rekannya A. Kramer dari Jerman ). Dan Pastor Katolik baru menjejakkan kaki di kepulauan ini tahun 1954 di bawah Pastor Aurelio Cannizzaro ). Bedanya hanya, Misionaris Kristen masuk dengan Pendeta dan Pastor, sedang Islam masuk melalui orang-orang penganut Islam itu. Sebab tugas da’wah adalah tugas setiap Muslim dimanapun mereka berada. Bukan oleh MISI yang semata-mata tugasnya mengajak/menarik ummatnya.
(4) Bahkan orang Mentawai telah berasimilasi dengan pendatang-pendatang Muslim dari Melayu, Aceh, Bugis terutama di Pasapuat (Sikakap) sedari 1879 ). Juga di Labuhan Bajau (Siberut Utara) yang memiliki teluk-teluk yang dalam, yang dikatakan sudah sejak dahulu ditunggui oleh perampok ) dari Bugis dan Aceh.
(5) Orang Mentawai memiliki nilai-nilai budaya yang tinggi. Identik dengan ajaran Islam. Mereka sangat menghargai kehormatan wanita. Menganggap zina suatu perbuatan tercela, terkutuk dan tidak bisa ditolerir. Sungguhpun orang Mentawai mudah digauli secara baik, namun perzinaan (perkosaan, ataupun hubungan seksual diluar pernikahan) selalu di tentang. Dan hukumannya bisa berakhir dengan kematian. Kalaulah cerita Stefano Coronese benar, tentang terbunuhnya orang-orang Bugis di Silabu karena memperkosa dan merampok wanita-wanita Mentawai ), maka catatan itu dapat menjadi bukti, betapa orang-orang Mentawai sejak dulu menghormati hak martabat sebagai nilai budaya.
(6) Orang Mentawai adalah orang yang juga mempunyai jiwa pejuang dan anti penjajahan. Itu terbukti dengan terbunuhnya pendeta Jerman pertama yang datang ke Mentawai. Dan itu terjadi manakala Pendeta bertugas sebagai perantara serdadu Belanda ).
Tentang orang Mentawai juga sangat tidak senang dengan penjajah asing dan ikut andil dalam perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia, kiranya dengan jelas dapat dibuktikan. Antara lain, tanyalah angkatan 45 yang ikut terjun di front Sumatera Barat. Dalam masa Perang Kemerdekaan dan Clash ke II (1945-1949) di Padang terkenal Kompi Mentawai yang kebanyakan mereka adalah pakai tatto ). Bukti lain adalah terdapatnya kuburan serdadu Belanda di Sioban Sipora. Sungguhpun kuburan itu sekarang sudah banyak yang digusur karena di sampingnya dibangun Gedung SMP Sioban.
Karena itu, salahlah kalau kita mengira bahwa Mentawai baru disentuh oleh Islam mulai tahun 1954, atau sesudah adanya Rapat Tiga Agama di pusat-pusat kecamatan di Mentawai dalam menghapus Arat Sabulungan ).

Pemimpin-pemimpin pemerintahan setingkat Assisten Wedana yang bertugas di Mentawai, sejak masa tahun 1950 hingga 1956 telah melakukan pembangunan fisik dan spiritual masyarakat kepulauan ini.
Ajakan-ajakan pemerintah tidak pernah ditentang oleh penduduk Mentawai. Pertanda tingkat kesadaran dan kepatuhan bernegara cukup dimiliki mereka.
Keinginan merubah nasib, dan meniru yang lebih baik serta berhasil cukup diminati oleh masyarakat asli Mentawai.
Suatu keberhasilan dari Asisten Wedana Suyuti di Sikabaluan (Siberut Utara) hingga ke Simatalu dan Simalegi, menjadi buah bibir masyarakat hingga kini. Tidak hanya sekedar buah bibir, anjurannya untuk menanami pantai dengan kebun kelapa bisa dinikmati hingga sekarang.
Motivasi yang diberikan diselipkan melalui lagu anak-anak sekolah dasar di daerahnya. Hingga kini, bait lagu itu tetap didendangkan. Antara lain berisikan bait-bait dalam bahasa daerah: urem urem toitet, kabulagan di butena. Artinya kira-kira, tanam-tanamlah kelapa, ada uang di pucuknya Dengan sebait nada ini, Mentawai menjadi penghasil kopra sampai sekarang, dan sampai abad dua puluh satu Insya Allah.
Lain lagi dengan Asisten Wedana di Siberut Selatan (Muara Siberut). Dia punya kiat menyuruh orang Mentawai berpakaian rapi. Supaya sama dengan saudara-saudaranya di Tanah Tepi. Sampai ajakan itu, hampir-hampir merupakan suatu peraturan setempat. Sebagai diceritakan oleh orang tua-tua di Muara Siberut ), bila orang Mentawai di hulu Sararekat (Rogdog, Madobag, Matotonan) mendengar boat Ass. Wedana dari Muara datang, maka penduduk buru-buru naik ke rumah, mengganti kabit (cawat) dengan pakaian yang pantas.
Lain halnya sekarang, setelah Wisatawan Mancanegara datang berkunjung ke dusun-dusun yang sama, malah yang terjadi sebaliknya. Penduduk berganti baju dengan kabit, karena mengharapkan pendapatan berupa tip (hadiah) untuk difoto sebagai kenangan ). Hal yang ironis di tengah pemukiman Depsos.
Asisten Wedana Abdur Rauf, yang bertugas di Sipora, pada masa jabatannya (1956) berhasil mengajak penduduk Tuapejat untuk mengolah sebuah pulau yang banyak ularnya, menjadi perladangan penduduk. Pulau itu kemudian ditanami tanaman-tanaman tua, buah-buahan, kelapa dan pohon-pohon bermanfaat secara ekonomis. Hasilnya dinikmati penduduk hingga kini. Pulau itupun diberi nama pulau AWERA ) sampai sekarang.

JUNI 1968, Bapak Mohammad Natsir Mantan Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pertama datang ke Sumatera Barat. Beliau diundang oleh Pemda Sumbar (Gubernur Harun Zain) dan Walikota Padang (Letkol Laut Akhirul Yahya), dan mendapatkan julukan spontan dari masyarakat dan Pemda Sumbar dengan panggilan “orang tua kita”. Kedatangan beliau ke Sumatera Barat waktu itu, selain memenuhi undangan Gubernur, juga menghadiri Ulang Tahun Yayasan Kesejahteraan Sumatera Barat di Padang. Kehadiran beliau di daerah ini tepat sekali, di saat kita baru memasuki era baru, Pembangunan Bangsa dan Negara di bawah Orde Baru. Beliau datang memberikan dorongan dan motivasi kepada segenap lapisan masyarakat, bahkan juga di perguruan-perguruan tinggi yang ada di Padang. Formula yang diketengahkan beliau pada waktu itu, adalah “hidupkan da’wah, bangun negeri”.
Pak Natsir (nama yang akrab dipanggilkan terhadap beliau) adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan pendiri dari Yayasan Dewan Dakwah. Dan Dewan Dakwah itu sendiri didirikan di Jakarta pada bulan Februari 1967, sebagai hasil dari Musyawarah Alim Ulama se-DKI Jaya, yang untuk pertama kali berkantor pusat di Masjid Al Munawwarah Kp. Bali I/53 Tanah Abang Jakarta Pusat ).
Dalam setiap kunjungannya beliau selalu mendorong ummat untuk memulai suatu amal nyata, dan menghindarkan diri dari berpangku tangan. Yang akan mengangkat ummat dan mengubah nasib mereka adalah usaha (amal karya) yang mereka telah perbuat dan lakukan jua. “Jangan berhenti tangan mendayung, supaya arus tak membawa hanyut”, begitulah nasehat yang sering disampaikan oleh Pak Natsir saat itu.
Ummat Muslim itu tidak akan bangkit dan berjaya, kecuali melalui usaha nyata (amal-amal khairat) yang mereka tumbuhkan, dan dipelihara terus menerus, sehingga membuahkan hasil yang dinikmati bersama, tidak hanya oleh si penanam bahkan juga oleh orang yang lewat di dekat tanaman itu.
Sebelum beliau berangkat meninggalkan Sumatera Barat, beliau meninggalkan program besar yang segera harus diwujudkan di daerah ini, sesuai dengan kemampuan yang ada. Modalnya, kata beliau,”mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sudah amat cukup untuk memulai”.

Rencana besar yang perlu diujudkan (direalisir) itu ada lima.

(1) Hidupkan semangat, gerakkan tangan, dan tumbuhkan kesejahteraan ummat (masyarakat) melalui keterampilan-keterampilan yang ada. Itu berarti merajinkan kembali tangan-tangan terampil dengan kerajinan tangannya, dan membangunkan pekarangan-pekarangan (lahan) yang tidur menjadi terbuka dan menghidupkan kesejahteraan bagi ummat (masyarakat) yang hidup di atasnya.

(2) Siapkan kembali “puro” ), yang menjadi sumber pendanaan pekerjaan ummat . Yaitu dengan menghidupkan kembali ruhul infaq, menyatukan dan memobilisir zakat, shadaqah dan infaq. Menghimpun dana ummat itu adalah ibadah. Dan meningkatkan nilai ibadah itu dengan mempergunakan dana ummat itu kembali kepada ummat sesuai dengan perintah dan acuan syariat Islam. Ide besar yang terkandung padanya adalah membiasakan ummat untuk berhemat. Dan menghidupkan mereka dalam suasana yang hidup dan memberi hidup. Mengingatkan senantiasa bahwa di dalam hartanya ada tersimpan hak orang lain. Hak itu kadang kalanya milik orang yang memintanya, dan adakalanya menjadi milik dari orang yang tidak mau meminta. Menggulirkan dana ummat kembali untuk ummat, inilah intinya.

(3) Hidupkan kembali madrasah dan pesantren-pesantren Islam yang tengah lesu darah. Madrasah tidak hanya sebagai wadah tempat mendalami satu disiplin ilmu (ilmu agama). Madrasah adalah tempat pembinaan kader-kader pemimpin ummat dan pelopor-pelopor serta penggerak pembangunan bangsa. Ummat tidak boleh dibiarkan hidup dengan menyerahkan diri kepada nasib. Masyarakat yang demikian akan hidup dalam kematian jiwa. Kalau begitu, masyarakat harus disadarkan dengan ilmu pengetahuan. Pengetahuan alam tentang kekayaan alam yang ada di sekitarnya. Pengetahuan tentang usaha-usaha yang bisa berperan meningkatkan kecerdasannya. Pengetahuan tentang sikap jiwa yang perlu dimiliki, bahkan pengetahuan tentang memilah persoalan-persoalan yang dihadapi. Serta bagaimana cara dan usaha mendekati persoalan hidup dalam hidup. Tentu semuanya berkehendak kepada kedalaman pemaham-an terhadap ajaran dan bimbingan Agama. Kita harus mulai dengan menghidupkan kewajiban “belajar seumur hidup”. Karena itu berikan stamina kepada madrasah-madrasah yang mulai lesu darah.

(4) Tumbuhkan Rumah Sakit Islam. Masalah kesehatan ummat adalah penting diperhatikan. Ummat yang jaya adalah yang sehat lahir dan sehat keyakinan agamanya.

(5) Perhatikan selalu pembangunan ummat di Mentawai.
Kelima program itu secara berangsur-angsur segera harus diwujudkan, dengan berusaha kuat untuk menggali segala potensi yang potensial menjadi potensi yang riel. Potensi besar yang dimiliki oleh ummat Islam adalah keyakinan agama yang kokoh, persaudaraan (ukhuwwah), kebersamaan (ta’awun), serta sama-sama bekerja di dalam kerangka kerja sama, serta saling menghormati.

Semua kerangka usaha itu berada di dalam satu jalinan kokoh dan indah, yang disebut Da’wah ilaa Allah.

Kelak, seperempat abad kemudian, tatkala Pak Natsir sudah berada di pembaringannya di dalam perawatan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada 24 Mei 1991, melalui tayangan video-cassette beliau mengingatkan kembali dalam taushiyah (pesan beliau) sebagai berikut;
“Dalam masa enampuluh tahun lebih, kita ummat Islam Indonesia bangkit di berbagai bidang, seperti : bidang sosial, pendidi kan, politik dan ekonomi, yang itu semua melingkupi apa yang kita sebut Da’wah ilaa Allah.”

Sejarah Indonesia menyaksikan sendiri bahwa dalam tiap-tiap perjuangan itu, terutama sejak permulaan abad ini, Islam telah mengambil peranan perintis jalan.
Sejarah menyaksikan !! ).

Dan akhirnya beliau menutup dengan sebuah harapan yang meminta kita untuk menjawabnya.

“Maka mari kita melihat tiap-tiap persoalan yang kita hadapi dari masa ke masa, sekarang atau yang akan datang sebagi ujian, sebagai ibtila’ yang silih berganti. Dan tidak usah kita menyembunyikan diri dari padanya, tetapi kita harus hadapi dengan iman dengan warisan Rasulullah SAW, Kitabullah wa Sunnata Nabiyyih”.

Ada syair dari Syauqi Bey, dalam rangka ini sama-sama mengingatnya:
Tegaklah kamu selama hidup ini sebagai mujahid mempertahankan pendirianmu. Sebab yang sesunguhnya dinamakan hidup itu ialah tak lain dari pada `aqidah dan jihad.

Mudah-mudahan demikianlah, begitulah Beliau mengakhirinya ).

Kini Mentawai sudah memasuki tiga tahun menjadi Kabupaten.

Sudahkah mereka berubah.

Yang terasa adalah denyut dakwah ke daerah ini mulai melambat Penyebabnya tidak semata dukungan materi yang tidak pernah cukup, dan bahkan terasa tidak ada.

Paling terasa adalah kurangnya tenaga dai yang mau bertolak ke sana.

Di samping program Pemerintah Daerah Kabupaten Mentawai sendiri belum lagi mau berpikir seimbang dan sebanding antara pembangunan  daerahnya yang memang tertinggal secara fisik dengan pembangunan mental umat dalam beragama yang semestinya menjadi pendorong percepatan pembangunan di seaga sektor riil itu.

Tidak dapat tidak,

Mentawai tetap memanggil ” mae sita ooi”, mari kemari, tapi yang akan menyahutnya tetap ragu dan bimbang.

Wallahu a’lamu bis-shawaab.

Membina Muhtadin Mentawai

Posted in Buya Masoed Abidin, Dakwah Buya ke Mentawai, Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai on Januari 4, 2009 by Buya Masoed Abidin
Ibadah Hari raya Qurban di Mentawai

Ibadah Hari raya Qurban di Mentawai

Muhtadin Mentawai berbondong menuju Masjid mereka dengan mengumandangkan takbir dan tahmid di hari Raya Idul Adha 1429 H, bersama keluarga dan anak-anaknya, berpakaian indah seadanya.

Perjalanan Dakwah ke Metawai

Posted in Buya Masoed Abidin, Dakwah Buya ke Mentawai, Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai on Januari 3, 2009 by Buya Masoed Abidin

foto-dakwah-mentawai-1426-hmentawai-ii

Dakwah Membina Muhtadin Mentawai

Posted in Uncategorized on Januari 3, 2009 by Buya Masoed Abidin
Penyebaran hewan qurban di Mentawai

Penyebaran hewan qurban di Mentawai

Berdakwah ke Mentawai

Posted in Buya Masoed Abidin, Dakwah Buya ke Mentawai, Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai, Mentawai on Januari 3, 2009 by Buya Masoed Abidin

dsc08527_36

Berqurban ke Mentawai, satu gerakan ibadah menjalin ukhuwah Islamiyah dan mempersatukan umat dalam ibadah

Posted in Dakwah Buya ke Mentawai, Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai, Mentawai on Januari 3, 2009 by Buya Masoed Abidin
Menyiapkan tenda menyambut perayaan di Mentawai

Menyiapkan tenda menyambut perayaan di Mentawai

Mengirimkan qurban ke Mentawai

Mengirimkan qurban ke Mentawai

Berqurban ke Mentawai

Berqurban ke Mentawai

Penyembelihan Qurban di Masjid Taqwa Sipora

Penyembelihan Qurban di Masjid Taqwa Sipora

Membuat Lapangan Udara di Mentawai, untuk meningkatkan arus Wisatawan ke daerah-daerah di Mentawai.

Posted in Komentar, Mentawai, Pariwisata Mentawai on Juni 24, 2008 by Buya Masoed Abidin

Pembangunan Bandara di Mentawai Dapat Tingkatkan Kunjungan Wisata

PadangKini.com | Senin, 23/6/2008, 16:55 WIB

PADANG–Rencana pemerintah membangun bandar udara  di Pulau Siberut
dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Mentawai.

“Bandara sebagai pintu gerbang suatu daerah tentu akan berpotensi
meningkatkan wisatawan ke Siberut karena mempermudah akses wisatawan
masuk ke Mentawai,” kata Ketua Mentawai Marine Tourism Assosiation
(MMTA) Anom Suheri, Senin (23/6).

Karena itu ia menyambut baik rencana pemerintah akan membangun lapangan
udara di Pei-pei, Siberut Selatan. Rencananya tim dari Pemprov Sumbar
akan melakukan studi kelayakan, lusa.

Menurutnya selama ini pariwisata Mentawai yang dikenal hanya surfing,
padahal masih banyak potensi lainnya yang belum dikelola seperti diving,
wisata alam, trekking dan wisata budaya.

“Wisata surfing itu khusus buat wisatawan yang mengambil paket long
holiday atau paket liburan panjang, sementara untuk wisatawan yang hanya
memiliki waktu libur singkat belum tergarap,” katanya.

Untuk mengundang wisatawan yang hendak berlibur tiga atau empat hari ke
Mentawai, menurut Anom harus disediakan infrastruktur memadai. Misalnya,
transportasi singkat menggunakan pesawat yang hanya butuh waktu dalam
hitungan jam.

“Kalau turis mau diving ke Mentawai atau berbulan madu lalu mereka harus
naik kapal yang butuh waktu satu hari perjalanan, tentu akan menyita
waktu,” katanya.

Wisata laut Mentawai yang memikat dan wisata budaya yang eksotis,
menurut Anom sangat digemari wisatawan mancanegara.

Tahun ini saja sekitar tiga resort lagi akan dibuka di Mentawai. Resort
dibuat di lokasi baru yang menjadi spot olahraga surfing.

“Di daerah Pagai ada dua investor yang akan membangun resort baru
sementara di Siberut, masih di sekitar Karamajat, akan dibuat resort
baru yang merupakan perluasan dari kandui Resort,” katanya.

Kehadiran resort baru  menurut anom membuktikan wisata Mentawai sangat
potensial dan harus digarap secara serius oleh pemerintah.

“Pemerintah harus membuat regulasi yang jelas dan berpihak kepada
kepentingan pariwisata juga kepentingan masyarakat setempat,” kata Anom.

Dengan aturan yang jelas, Anom yakin pendapatan asli daerah Mentawai
akan meningkat secara signifikan. (oca)

Copyright (c) 2008 www.padangkini.com All Rights Reserved.

Mentawai, Bangunlah Jiwanya…. (Islam dalam Pelukan Muhtadin Mentawai )

Posted in Buku Buya, Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai, Mentawai on April 26, 2008 by Buya Masoed Abidin

MENTAWAI,
BANGUNLAH JIWANYA
BANGUNLAH BADANNYA

Rasanya tidak satupun rakyat Indonesia yang tidak kenal bait Indonesia Raya yang dinukilkan WR Supratman tersebut. Membangun dalam keseimbangan. Membangun jiwa dan raga. Tidaklah mungkin bait ini dilupakan, termasuk dalam membangun Mentawai. Pulau pulau indah di barat Sumatera, yang sekarang kembali jadi perha¬tian kita, bahkan dunia.

Reporter FAJAR, Rasmi Soeki, Ir. Eki Hari Purnama, Akmal Thulas, Maifil Eka Putra, Yeyen Kiram, mengangkatnya untuk pembaca.

Seminar Nasional Pulau pulau Kecil, Terpencil dan Strategis yang digelar UNAND di Novotel Bukittinggi, diliput oleh Eki. Eka mengungkap refleksi sosio historis interaksi Mentawai dan Tanah Tepi. Pendekatan sosio kultural puncak puncak kebudayaan Mentawai digali Akmal. Sementara Yeyen memotret kiprah nyata LSM member¬dayakan potensi SDM/SDA Mentawai. Rasmi Soeki menyajikan keindahan Mentawai dari view finder kameranya.

Liputan ini diperkaya dengan kajian pustaka dan disunting untuk disajikan pada ANDA oleh Effendi Koesnar, Irsyad dan Ipul.

Wawancara H Mas’oed Abidin
Ada Allah dalam Ikere

Mentawai belakangan ini cukup menarik bagi orang orang dalam dan luar negeri. Banyak pelancong ke pulau pulau tepi barat Sumatera tersebut. Untuk mengenal Mentawai lebih jauh berikut petikan wawancara reporter FAJAR, Akmal Thulas bersama H Mas’oed Abidin yang lebih 25 tahun berkonsentrasi dalam pengembangan dakwah Islam di sana.

Bagaimana Ustadz melihat Arat Sabulungan ?

Arat Sabulungan itu adalah adat istiadat daerah Mentawai. Itu bukan agama.

Apa kepercayaan di sana sebelumnya ?

Masyarakat di sana sudah mengenal Kekuatan Tunggal yang mencip¬takan langit dan bumi. Kepercayaan mereka lebih dekat dengan Islam. Di dalam doa mereka, yang dikenal dengan ikere, ada di sebut nama Allah.

Alasan Ustadz ?

Di dalam buku Stefanose Coronese, Kebudayaan Suku Mentawai, pada halaman 31 disebutkan bahwa orang Mentawai telah melakukan hubun¬gan dengan orang Tiku tahun 1621. Masa itu Tiku berada di bawah kerajaan Aceh yang telah memeluk agama Islam.

Bagaimanakah inti sari kebudayaan mereka ?

Orang Mentawai mempunyai puncak kebudayaan, berisi 10 ajaran yang sangat dekat dengan Islam. Pertama adalah orang Mentawai percaya kepada Kekuasaan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Ini dikenal dengan Teikamanua. Mereka telah mengenal Maha Esa.
Kedua, Adil. Orang Mentawai kalau membagi sesuatu harus sama banyak. Tidak berat sebelah.
Ketiga, Kebersamaan. Orang Mentawai lebih mengutamakan persatuan dan persaudaraan.
Keempat, Tidak boleh berzina. Perkawinan bagi mereka merupakan hal yang sakral. Kalau ada yang melanggar dihukum oleh adat. Dahulu hukumannya ada yang dibunuh.
Kelima, tidak boleh masuk rumah kalau di dalamnya hanya ada perempuan saja.
Keenam, Kalau berjalan bersama sama maka laki laki harus di depan.
Ketujuh, orang Mentawai jujur dan lugu. Kalau kita menjanjikan akan memberikan rokok Gudang Garam kepada penduduk, ternyata kita memberikan mereka hanya rokok Dji sam soe. Rokok Dji sam soe tetap mereka terima tetapi rokok Gudang Garam tetap mereka tanya¬kan dan minta.
Kedelapan, berat sepikul ringan sejinjing. Semua pekerjaan mereka lakukan bergotong royong.
Kesembilan, tidak mau mengambil hak orang lain. dan kesepuluh menghormati tamu.

Bagaimana dengan kenyataan sekarang ?

Sosial budaya Mentawai akhir akhir ini sudah banyak berubah sejak masuknya pendatang dalam dan luar negeri.

Sejak kapan program Dewan Dakwah di sana ?

Program Mentawai merupakan salah satu program yang dicanangkan M.Natsir ketika pulang ke Sumatera Barat 1968, atas undan¬gan gubernur untuk menghimbau orang Sumatera Barat membangun kampung halaman.
1970, DDII telah mengirimkan para da’i ke Mentawai. Mereka yang telah lama mengabdi di sana seperti Abdul Hadi, Aruni, Usmar Marlen, dan Najib Adnan.

Apa saja yang dilakukan Dewan Dakwah di sana ?

DDII di sana mengajak orang Mentawai yang tak beragama menjadi beragama Islam. Di samping itu kami membuat paket paket program peningkatan sumber daya manusia. Seperti pembangunan lembaga lembaga pendidikan; mengadakan penyuluhan penyuluhan keagamaan, masalah masalah kehidupan; peternakan dan pertanian. Kami berger¬ak atas swadana masyarakat Sumbar. Tidak ada dana luarnegeri yang menggaji da’i di Sana. Alhamdulillah orang Mentawai banyak meme¬luk agama Islam dengan kesadaran sendiri.

DARI SEMINAR NASIONAL PULAU KECIL
Kita Berdosa Membiarkan Tertinggal

“Kita sangat berdosa jika membiarkan mereka hidup tertinggal sangat jauh dari saudara saudaranya yang ada di Sumatera Barat sendiri maupun di daerah lain di Indonesia,” kata Siswono Yudohusodo, Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (PPH), ketika memberi pengarahan pada seminar nasional ‘Pulau Pulau Kecil, Terpencil, dan Strategis di Bukittinggi, Maret 1997.

Seminar yang berlangsung di Kota Wisata itu, selain menekankan pembahasan terhadap Pulau Siberut, Mentawai, juga memperbincang¬kan nasib gugus pulau pulau kecil lainnya di Nusantara. Selain Siswono, turut memberikan pengarahan dalam forum ini Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Soesilo Soedarman. Pembu¬kaan acara ini juga dihadiri Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin, Rektor Universitas Andalas Prof.Fachri Ahmad dan Ketua Panpel Prof.Marlis Rahman,

Sekilas tentu muncul pertanyaan kenapa Mentrans dan PPH mengutip kata dosa, ketika berbicara tentang nasib Kepulauan Mentawai. Kata yang berdimensi religius setidaknya menyiratkan betapa gugus kepulauan di pesisir Barat Pulau Sumatera perlu perhatian. Jelas perhatian yang dimaksud bukan sekadar di sana terdapat spesies binatang langka. Seperti Siamang Kerdil (Hylobtaes telossi), Lutung Mentawai (Presbytis potenziani) ataupun Beruk Mentawai (Macaca pagensis). Atau karena kayu kayu di hutannya bisa disulap menjadi fulus yang jumlahnya jutaan dollar.

Bukan pula karena Mentawai terdapat plasma nutfah yang patut dilestarikan. Lebih daripada itu, kata Mentrans dan PPH, pelaksanaan program pemban¬gunan seperti transmigrasi di Mentawai bertujuan meningkatkan harkat dan martabat hidup masyarakat yang harus diletakkan di atas segala galanya. Artinya, secara normatif meletakkan Kepu¬lauan Mentawai pada tataran pinggiran berarti akan menuai dosa

Dan, isu pembangunan yang dikaitkan dengan upaya pemberdayaan pulau pulau kecil, terpencil, dan strategis, agaknya bukanlah sesuatu yang baru. Kenapa topik itu kembali dihangatkan, apalagi dalam forum nasional di Convention Hall, Hotel Novotel Bukitting¬gi, yang dihadiri pakar dan peneliti dari LIPI dan perguruan tinggi, Bappenas, dan serta kalangan LSM. Sebab, dalam mimbar ilmiah yang digagas Universitas Andalas, Padang, ditegaskan bahwa pulau pulau kecil, terpencil, dan strategis, bukan hanya perkara menyejahterakan penghuninya. Ia terkait pula dengan kepentingan bangsa, baik dari sudut pandang ekonomi seperti pemberlakuan zona ekonomi ekslusif (ZEE), maupun pertahanan dan keamanan, karena terletak pada lokasi lokasi yang berpotensi konflik. Bahkan, kata Menko Polkam , ” Membangun pulau pulau kecil itu tak bisa dipi¬sahkan dengan aspek pertahanan dan keamanan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Menko Polkam mengatakan, pada dasarnya percepatan pembangunan pulau pulau kecil itu tak bisa dipisahkan dari poten¬si kekayaan baharinya. Karena itu, pemerintah membentuk Dewan Kelautan Nasional (DKN) yang diketuai Presiden Soeharto pada 16 Januari 1997 lalu. Dari hasil jajak pendapat, katanya, ada bidang awal dalam mengangkat potensi sumber daya kelautan. “Yaitu bidang perikanan, wisata bahari, transportasi laut, bidang lingkungan hidup dan wilayah pesisir,” ucap Soesilo yang juga Wakil Ketua DKN.

Kalau Siberut atau Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat yang jadi topik utama, katanya, sebab lokasi ini sudah dikenal masyarakat dunia karena kekayaan sosial budayanya serta lingkungan hidupn¬ya. Dia mengatakan bahwa sebagai kepulauan yang terpencil namun terkenal di dunia, pembangunannya harus dilaksanakan dengan hati hati. Ia menjelaskan bahwa dalam membangun kepulauan Mentawai yang terpisah sangat jauh dari induknya, yakni daratan Sumbar, selain dilaksanakan dengan hati hati juga bertahap dalam batas batas kondisi dan kemampuan yang ada.

“Tidak perlu disamaratakan sebagaimana pembangunan yang dilaksanakan di wilayah lain karena kondisi geografisnya memang memiliki karakteristik tersendiri,” kata Menko Polkam dan menambahkan Kepulauan Mentawai mewakili gugusan ribuan pulau kecil dan stra¬tegis lain yang perlu dibangun.

Menurut Menko Polkam, dalam pembangunan Pulau pulau kecil, ter¬pencil dan strategis di Indonesia perlu memperhatikan aneka ragam Sumber Daya Hayatinya demi terpeliharanya lingkungan hidup dan sosial budaya.

Selain itu, menurut Soesilo Soedarman, tidak perlu terjadi tum¬pang tindih alokasi pembangunan, pengelolaan tanah atau tata ruang/wilayah yang serasi termasuk adanya hak ulayat. Pembangunan pulau pulau kecil (Mentawai) diarahkan untuk meningkatkan potensi kelautan dan wilayah yang dikenal dengan “Agromarine” dan “Aqua¬marine” yaitu memanfaatkan pulau pulau kecil dengan usaha yang berkaitan dengan laut dan wilayah pulaunya dikelola melalui instensifikasi lahan pertanian dan perkebunan.

Sementara itu dilain pihak, katanya, perlu diusahakan pember¬dayaan masyarakat setempat yang umumnya nelayan tradisional guna mengenali teknologi laut yang lebih canggih dan berusaha belajar dari pendatang mengenai berbagai aspek kehidupan seperti menjadi nelayan lepas pantai mengingat kita memiliki ZEE luas. Dalam menyukseskan pembangunan di pulau pulau kecil, menurut Menko Polkam, diperlukan perhatian semua pihak, yaitu Pemda dengan memperhatikan permasalahan mendasar di bidang transportasi dengan pulau pulau besar lain. Menurut dia, Kepulauan Mentawai merupakan gugusan pulau pulau yang khas baik ekosistem maupun kependudu¬kannya dan terkenal memiliki sosial budaya dan lingkungan hidup berupa biosfir dunia di Pulau Siberut serta potensi pariwisata. Selain itu, katanya, pembangunan pulau kecil terpencil dan stra¬tegis bukanlah pembangunan pulau demi pulau, akan tetapi pemban¬gunan atas dasar kawasan pulau secara terpadu dan saling menun¬jang dan bukan dalam bentuk persaingan.

Di sudut lain, Gubernur Sumbar menilai, pada dasarnya pembangunan pulau Mentawai selalu menempati agenda utama dalam pembangunan daerah. Tak dipungkiri, kata Hasan, gerak pembangunan di Mentawai selalu menjadi perhatian, bukan hanya kelompok masyarakat di dalam negeri ataupun di luar negeri. Atas dasar ini dia mengajak semua pihak untuk menempatkan kepentingan masyarakat Mentawai pada tempat teratas, terutama hak mereka untuk mendapatkan kehi¬dupan yang lebih baik. “Yang pasti sebuah masyarakat yang terasing akan semakin terasing kalau ia semakin jauh dari sentuhan pembangunan,” tandasnya.
Dalam bahasa Mentrans dan PPH, dikatakan adalah adalah tidak bijaksana jika kita tetap membiarkan kelompok kelompok masyarakat tertentu yang kalau mau makan harus berburu terlebih dahulu dan mengambil ubi di hutan, padahal kebiasaan itu di manapun sudah lama tidak ada. Sehubungan itu dia menyergah pendapat yang menyatakan tidak setuju terhadap pembangunan di Mentawai, Siswono menjelaskan, dirinya sama sekali tidak setuju. Menurut dia, pemerintah tetap ingin untuk membuat mereka lebih maju dan sejah¬tera melalui sistem pertanian modern yang berorientasi agrobisnis dan agroindustri.

Masih menurut Siswono, program transmigrasi merupakan langkah yang logis dalam memberdayakan potensi Kepulauan Mentawai. Pro¬gram ini selain mendongkrak jumlah penduduk yang berhubungan dengan produktifitas sekaligus menjembatani penularan peradaban yang lebih moderen. “Pembangunan pada dasarnya juga membangun peradaban. Demikian untuk membangun pulau pulau kecil. Tak perlu khawatir dengan perubahan, sebab peradaban itu besifat dinamis dan berubah. Dan, kita semua tahu yang merubah itu adalah manusia itu sendiri,” terangnya.

Meski Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan Ir. Siswono Yudohusodo mengatakan pelaksanaan program transmigrasi di Pulau Siberut wilayah Kepulauan Mentawai, Sumbar, tergolong rumit.

Dalam penjelasannya di Bukittinggi, dia mengatakan penduduk di Pulau Siberut masih sangat tradisional, bahkan banyak yang masih animis dan menggantungkan hidupnya dari hasil berburu dan meramu hasil hutan. Dalam program transmigrasi, menurut Siswono, Pemer¬intah ingin mengajak mereka untuk masuk pada dunia yang lebih modern dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah terisolir itu. Karena itu, kata dia, pembangunan transmi¬grasi di wilayah Mentawai yang sampai saat ini baru terlaksana di Pulau Siberut harus benar benar dipahami sebagai proses belajar yang efektif bagi penduduk setempat. Hanya dengan meniru dari saudara saudara dari daerah lain, menurut Siswono, masyarakat Mentawai dapat lebih cepat maju dibandingkan melalui proses pendidikan yang menghabiskan waktu bertahun tahun.

Ia menjelaskan bahwa kepulauan Mentawai hanya dipimpin camat, padahal Pulau Simeulue di Aceh dan Pulau Nias di Sumut sudah dipimpin seorang Bupati.

MEREKA YANG PEDULI MENTAWAI
“BURGER” DURIAN DARI SIPORA

Salah satu pertanyaan mendasar dalam pembicaraan seputar Mentawai adalah sumber daya potensial yang dimiliki, baik sumber daya alam nabati dan botani, maupun sumber daya manusia sebagai modal dasar pembangunan secara keseluruhan.

Mentawai, dengan empat kecamatan dan luas wilayah lebih kurang 60. 000 km2, yaitu Siberut Selatan, Siberut Utara, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan adakah segenap potensi Mentawai selama ini telah digarap secara maksimal, baik terhadap peningkatan kualitas maupun kesejahteraan masyarakat di sektor pendidikan, ekonomi maupun kebudayaan?

Apalagi kondisi geografis yang berbentuk kepulauan, merupakan halangan untuk menjalin komunikasi dan transportasi bagi pelaksa¬naan pembangunan, maupun bagi upaya pengembangan dan peningakatan kesejahteraan masyarakat Mentawai.

Kendala ini tidak saja muncul sewaktu Seminar Nasional tentang Pulau Pulau Terpencil dan Strategis baru baru ini di Bukittinggi, namun juga diakui oleh aktifis dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat di Padang yang peduli terhadap pengembangan dan pem¬bangunan kepulauan Mentawai, serta oleh putra daerah Mentawai sendiri.

Berikut ini pengakuan para aktifis LSM yang mengkhususkan diri dalam upaya pengembangan kesejahteraan masyarakat Mentawai.

Ir. YUHIRMAN, direktur Sekretariat Pengembangan Kawasan Mentawai (SPKM) yang beberapa kali menjalin kerjasama dengan lembaga donor dari dalam dan luar negeri, menandaskan bagaimana alam dan manu¬sia di Mentawai saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini terimplementasi dalam pola kehidupan sehari hari mereka.

Dapat dilihat, misalnya, dari pola mata pencaharian utama pendu¬duk setempat, yang mayoritas nelayan atau petani. Sulit dijumpai penduduk asli yang mencari nafkah melalui dagang atau wiraswasta.

Hal yang sama juga diakui oleh ADE WALDEMAR. SH, putera daerah dari Ikatan Pemuda Pelajar Pelajar Mentawai (IPPMEN) yang berdiri sejak tahun 1982.
“Mentawai sesungguhnya amatlah potensial.

Alam dan hutannya kaya, jumlah penduduknya juga cukup banyak. Lebih kurang 60. 000 jiwa pada saat ini, terutama pemuda yang berada di usia produktif”.
“Akan tetapi karena teknologi dan tingkat pendidikan masyarakat setempat masih rendah, tanpa disadari, banyak masyarakat di luar cenderung menganggap rendah atau melecehkan Mentawai. Dapat dilihat dari istilah ‘orang pagai’, ‘lego pagai’, dan sebagainya. Semua itu berkonotasi rendah di tengah tengah masyarakat kita,” tambah Yuhirman kepada FAJAR.

Masih menurut Yuhirman, pada dasarnya arah terpenting pengemban¬gan sumber daya Mentawai saat ini adalah, kemampuan mengelola sumber daya alam, serta kemampuan mengembangkan lokomotif ekonomi Mentawai.

Permasalahan sekitar sumber daya manusia, dalam pengakuan Ade Waldemar, bukan terletak pada pemuda Mentawai yang menolak untuk diberdayakan, sebagaimana kecendrungan dari suku terasing lain. Dimana mereka menolak diasimilasikan dengan masyarakat di luar suku mereka.

Masalah lebih terpaku pada rancangan sistem pendidikan yang kurang memberi peluang terhadap pengembangan kemampuan serta intelektualitas murid didik semenjak di Sekolah Dasar. Pendidikan dilaksanakan hanya sebagai pemenuhan program kurikulum dari pusat. Bukan pada pemenuhan kebutuhan anak anak di Mentawai.

Secara psikologis, sosial dan budaya, mereka berbeda dengan anak anak di tempat lain di luar Mentawai.
Tanpa disadari, secara mental keadaan ini memberi dampak yang kurang menguntungkan bagi anak anak.

Semua ini berawal dari kurikulum pendidikan yang menyamaratakan untuk seluruh daerah. Secara topografis dan geografis alam Menta¬wai sangat berbeda dengan daerah lainnya, khususnya di daratan Sumatera. Harusnya, hal ini dipertimbangkan oleh lembaga pendidi¬kan terkait, ujar Ade menjelaskan.

Sumber Daya Alam yang Potensial.

SPKM didirikan 10 tahun silam oleh para aktifis yang peduli terhadap kelangsungan sumber daya alam dan populasi kehidupan di kepulauan Mentawai, diantaranya Ir. Nurdin. Dalam program kerjan¬ya, lembaga ini lebih berorientasi terhadap pemberdayaan ekonomi rakyat setempat, selaras dengan sumber daya alam yang ada.

Tahun 1996, bekerjasama dengan Departemen Kesehatan dan Dirjen POM, bagian Budi Daya Tanaman Obat, SPKM mengadakan penelitian terhadap bahan obat obatan tradisionil yang terkandung dalam hutan dan alam Mentawai. Ditemui sekitar 40 macam tanaman yang memiliki kandungan obat obatan yang bermanfaat.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan lembaga KEHATI (Keanekaragaman Hayati), pimpinan Bapak Emil Salim dan masyarakat terkait lainnya.

Dalam penelitian lainnya, SPKM menemukan bahwa durian lokal Mentawai, ternyata memiliki kualitas yang sangat baik diantara durian Indonesia. Duriannya memiliki duri yang lunak kehijauan, biji berukuran kecil dan daging yang tebal.
Untuk pengembangan durian ini, Yuhirman dan kawan kawan mengada¬kan program penangkaran bibit. Telah ada sebanyak 8. 100 bibit durian yang diprogram mendatangkan hasil lebih cepat dibanding pertumbuhan alami rata rata, yakni lima tahun. Dengan lokasi di SP II Transmigrasi Toupejat, Kecamatan Sipora.

Program lainnya adalah, upaya peningkatan ekonomi rakyat melalui usaha industri rumah tangga, dengan pemanfaatan teknologi tepatguna melalui pengolahan pisang sale. Buah pisang dibeli dari kebun masyarakat setempat, selanjutnya diolah menjadi makanan ringan. Kualitas pisang Mentawai yang baik diharapkan menghasil¬kan sale yang dapat diekspor ke luar negeri.

Dalam percobaan, durian dan pisang ini diolah menjadi makanan “burger” durian, semacam hamburger atau cheeseburger. Terdiri dari lapisan roti, pisang sale, selai durian, pisang, dan roti. Atau khusus selai durian dalam kemasan botol.
Bila program tersebut berhasil, upaya ini akan membantu mening¬katkan ekonomi masyarakat. Di samping dapat menambah devisa bagi negara dan daerah daerah setempat.

Selain durian dan pisang, jagung Mentawai termasuk berkualitas baik. Hanya saja, perhatian terhadap pengembangan budidaya tana¬man jagung belum terlihat. Sebagai tanaman percontohan, SPKM bekerjasama dengan Departemen Transmigrasi mengajak masyarakat setempat, terutama masyarakat di wilayah transmigrasi, untuk berpartisipasi menanam beberapa pohon jagung di halaman rumah masing masing. Alhamadulillah, ajakan ini dipenuhi.

Sumber Daya Manusia Mentawai

Secara kuantitas, jumlah pemuda berusia produktif di kepulauan Mentawai merupakan potensi tersendiri bagi pemberdayaan masyarakat Mentawai secara umum.

Namun karena pola pendidikan dasar yang diberikan belum sesuai dengan kondisi sosial budaya anak anak Mentawai, potensi itu akhirnya belum termanfaatkan secara maksimal.
“Terkecuali anak anak yang memiliki orang tua campuran. Maksudn¬ya, salah satu orangtuanya merupakan kaum pendatang, atau orang dari daerah seberang (Minangkabau) yang menikah dengan penduduk asli, atau sebaliknya. Anak anak ini dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih baik kualitas maupun fasilitasnya, seperti yang ada di Padang,” ujar Ade Waldemar yang menempuh pendidikan dasar (SD) dan SMP di kecamatan Sikakap, Mentawai. Pendidikan atas ditempuhnya di SMA 2 Padang, kemudian meneruskan di Fak. Hukum, Universitas Andalas, Padang.

Tak heran jika mantan ketua umum IPPMEN ini merasa prihatin atas kondisi tersebut. Itulah sebabnya, IPPMEN sebagai organisasi yang didirikan oleh para putera daerah Mentawai di Padang, merasa ikut bertanggungjawab dalam hal ini. Mereka mengadakan latihan latihan dasar untuk calon tenaga kerja yang berasal dari pemuda asli Mentawai di Padang.

Di samping latihan menambah wawasan dan intelektualitas, IPPMEN juga memberi pengarahan dalam memilih sekolah dan tempat tinggal bagi yang hendak meneruskan pendidikan di Padang.
“Kebanyakan generasi muda Mentawai, selain meneruskan sekolah, juga untuk mencari kerja di Padang ini. Mereka umumnya bergerak di sektor informal. Misalnya, menjadi pembantu rumah tangga, atau cukup bekerja sebagai buruh kecil pabrik di kota Padang dan sekitarnya. “

Beranjak dari kenyataan tersebut, terlalu dangkal kiranya jika Mentawai masih dipandang sebagai kawasan terisolir yang terting¬gal dan penuh kekurangan. Tidak saja terhadap potensi ekonomi, potensi dari sektor pariwisatapun agaknya Mentawai belum tergarap secara maksimal dan profesional. Sehingga beberapa kegiatan budaya masyarakat lokal setempat yang cukup menarik sebagai asset pariwisata, berlalu begitu saja.

Hal ini disebabkan oleh terbatasnya informasi tentang Mentawai. Sehingga tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman dalam memandang wilayah kepulauan di kawasan pantai barat Sumatera tersebut, baik oleh masyarakat Sumatera Barat sendiri, apalagi masyarakat luar.

Dengan demikian, kepedulian dan perhatian terhadap Mentawai tidak lagi merupakan ‘pekerjaan’ sepihak.
Atau hanya melibatkan sebahagian kecil dari masyarakat, sebagaimana yang ada selama ini.
(Yeyen Kiram).

Saat ini, tidak banyak lembaga maupun masyarakat yang peduli tentang apa dan bagaimana Mentawai.
Terkecuali bila tiba tiba muncul berita mengejutkan yang bersifat sensasional, barulah kita ramai ramai berpaling ke daerah kepulauan yang spesifik ini.
Di Padang sendiri, terdapat sembilan lembaga swasta non profit yang mengkhususkan diri bergerak di seputar Mentawai serta upaya pemberdayaan dari persoalan persoalan ke Mentawai an.

Inilah beberapa dari lembaga maupun yayasan tersebut.
1. Lembaga Sibujailaggai.
2. Lembaga Laggai Simoeru.
3. Yayasan Citra Mandiri.
4. Yayasan Pembinaan Masyarakat Mentawai.
5. Yayasan Suku Mentawai.
6. Sekretariat Pengembangan Kawasan Mentawai (SPKM).
7. Ikatan Pemuda Pelajar Mentawai. (IPPMEN).
8. Yayasan Bhineka Tunggal Ika.
9. Yayasan Bina Sejahtera.

Sembilan lembaga tersebut tergabung dalam suatu wadah, bernama Forum Pemersatu Peduli Mentawai (FPPM) yang diketuai oleh Miko Kamal.
Di antara lembaga tersebut, SPKM tercatat yang paling banyak melakukan kerjasama dengan lembaga swadaya lain baik dari dalam maupun luar negeri.

Kendati bermula dari modal swadaya para pendiri, Ir. Nurdin dan Ir. Yuhirman, namun lembaga inipun diketahui paling awal berdiri, tahun 1989.
SKPM pernah melakukan kerjasama dengan UNDP (lembaga PBB) tahun 1992, Conservation International tahun 1991, Danamitra Lingkungan tahun 1990, Canada Foundation tahun 1992, Departemen Kesehatan Dirjen POM tahun 1996 1997 dan sedang berlangsung sekarang adalah, kerjasama dengan Departemen Transmigrasi, sejak tahun 1996.

Mentawai dan Tanah Tepi

Banyak yang berbicara tentang Mentawai, tapi sedikit yang berusa¬ha memahaminya. Tidak terkecuali mereka di dunia akademis yang menghabiskan berlembar lembar makalah.
Mentawai dan tanah tepi bukan sesuatu yang baru. Hanya sebagian besar ‘orang tanah tepi’ baru terbuka matanya. Mentawai tidak tertinggal sebenarnya, kita yang tertinggal memahaminya.

Sebenarnya Mentawai mempunyai kebudayaan yang tinggi, tidak hanya sebatas kabit kabit dan busur panah. Sepanjang mau meneliti puncak puncak kebudayaan masyarakat Mentawai, banyak hal yang bisa diungkap. Hasilnya, tentu akan sangat mendukung jalan pem¬bangunan Mentawai sendiri. Pernyataan itu disampaikan H Mas’oed Abidin kepada FAJAR ketika mengomentari pembangunan pulau terpencil, baru baru ini.

Menurut Mas’oed, puncak kebudayaan masyarakat Mentawai diantara nya kepercayaan pada penguasa tunggal, yang dalam istilah mereka disebut penguasa langit dan bumi (Tekamanua). Sedangkan roh roh nenek moyang hanyalah perantara untuk meminta kepada penguasa tunggal tersebut (Baca: Ada Allah dalam Ikere).

Puncak kebudayaan itu terlihat dalam kehidupan sehari hari yang menjadi dasar beberapa aturan bermasyarakat. ‘Larangan berzina,’ satu diantaranya. Jika tertangkap, si pezina dihukuman berat, mu¬ngkin dibunuh. Dalam kehidupan sosial, membangun rumah dan mem¬buat perahu selalu dilakukan bersama sama. Bahkan bila terjadi kemalangan (kematian) atau keuntungan (mendapat binatang buruan) berita disebar ke seluruh kampung. Tudukkat (sejenis kentongan) ditabuh mengeluarkan bunyi isyarat khusus yang hanya bisa diter¬jemahkan orang Mentawai. Cara itu masih ditemui sampai sekarang di Siberut Selatan (Matotonan) dan Siberut Utara (Simalegi, Simatalu), ungkap Mas’oed.
Dalam hal membagi jatah, seperti hasil buruan atau suatu barang, orang Mentawai terkenal adil. Sehingga ada ungkapan ‘Bagi Menta¬wai’ (membagi cara Mentawai). Semuanya akan memperoleh bagian dalam jumlah sama besar. Orang yang membagi memperoleh pada giliran terakhir.

Tingginya penghormatan terhadap nilai nilai rumah tangga dan penghargaan pada kaum wanita merupakan norma sosial yang amat mengesankan. Buktinya, seseorang tidak leluasa menaiki rumah orang lain bila di dalam rumah hanya ada para wanita. Bila laki laki berjalan dengan wanita, yang dahulu adalah laki laki, sedangkan wanita mengiring di belakang, sebagaimana dilakukan umat Nabi Musa As.

Selain itu, kata Mas’oed, jangan coba coba berjanji dengan orang Mentawai bila tidak mampu menepati. Akibatnya kepercayaan mereka akan hilang selamanya. Orang Mentawai tidak mau mengambil hak orang lain. Dalam pembagian, mereka akan mengambil bagian mereka dan tidak mengambil hak orang lain, kecuali bila direlakan.

Menurut Mas’oed, secara analitis, sebenarnya Mentawai mempunyai potensi amat besar untuk pembangunan. Tinggal bagaimana petugas yang membangun Mentawai bisa mengerti dengan puncak kebudayaan mereka. Pendekatan kebudayaan seharusnya lebih diutamakan dari pada pendekatan kehendak. Penduduk Mentawai bukanlah orang yang terbelakang, melainkan masyarakat yang beradab. Sejak 1621 (375 tahun lalu), mereka telah berhubungan dengan orang tanah tepi (pantai barat Sumatera), khususnya orang Tiku. Penduduk pulau Mentawai ketika itu belum paham dengan bahasa orang Tiku, begitu juga sebaliknya, seperti dilansir Stefano Corenese dalam bukunya ‘Kebudayaan Mentawai’. (1988:31)

Selintas, hubungan ini adalah hubungan kekerabatan dan saling memenuhi kebutuhan, seperti hubungan ekonomi atau transaksi di pasar. Bila dilihat daerah daerah pantai Mentawai sebelah timur, yang berhadapan langsung dengan tanah tepi, banyak ditemui desa atau dusun dengan nama Pasa atau Pasar. Diantaranya ada yang bernama Pasakiat atau Pasar, juga Pasapuat atau Pasar Besar. Di tempat ini dilakukan jual beli dengan bahasa isyarat.

Secara teoritis dapat dipahami bahwa hubungan kekerabatan atau persaudaraan antara orang Mentawai dan penduduk pulau Sumatera terjalin sangat akrab. Di kampung kampung pedalaman sekalipun, di depan rumah (Uma) selalu tergantung kuali besar.

Dari penelitian, tidak ditemukan satu kebudayaan yang menghasil¬kan kerajinan logam. Tidak ada pandai besi. Padahal tidak seorangpun orang Mentawai yang tidak memiliki parang panjang. Darimana mereka peroleh kalau bukan melalui hubungan jual beli?

Catatan sejarah tidak pernah membuktikan terjadinya perang atau perkelahian besar antara penduduk Mentawai dengan pendatang dari tanah tepi. Ini membuktikan bahwa hubungan Mentawai dengan pantai barat Sumatera adalah hubungan kekerabatan, bukan hubungan penguasaan.

Misionaris pertama masuk ke Mentawai tahun 1901. Dipimpin August Lett, seorang pendeta dari Jerman (Zending Protestan). Akan tetapi nasib jualah yang menyebabkan August Lett, harus mati dibunuh penduduk Mentawai, setelah delapan tahun ia di sana (1908).

Kematian August Lett bukan karena mengembangkan agama Protestan, tetapi karena menjadi penghubung tentara kompeni Hindia Belanda (lihat juga tulisan Stefano Coronese). Orang Mentawai bukanlah orang yang benci terhadap pendatang atau penyebar agama, walaupun mereka sudah menganut sebuah kebiasaan nenek moyang yang dikenal dengan arat sabulungan (belum berupa agama, karena tidak ada aturan aturan peribadatan).

Tahun 1954, terjadi perubahan besar di Mentawai, dengan adanya musyawarah tiga agama, Islam, Kristen Protestan dan Arat Sabulun¬gan. (Katholik baru masuk 1954 dipandu oleh Pastor Aurelius Cannizaro dari Itali). Salah satu keputusan musyawarah adalah bahwa Arat Sabulungan harus ditinggalkan oleh masyarakat Mentawai dan mereka dipersilahkan memilih agama resmi di dalam Negara RI.
Tahun 1955, seluruh masyarakat Mentawai sudah menjadi masyarakat beragama. Arat Sabulungan ditinggalkan. Hal ini membuktikan bahwa musyawarah bukan hanya sebuah produk pemaksaan. Kalau ada yang lari ke hutan, jumlahnya tidak banyak, sekitar satu keluarga saja. Mereka dikenal dengan suku Sekudai yang hidup di hutan sampai hari ini. Minggatnya suku Sekudai ke pedalaman Sagalubek bukan hanya disebabkan rapat tiga agama, tetapi lebih banyak karena pergeseran paham antar suku di Rokdok.

Orang Mentawai bangun pukul 03.00 dini hari, melaksanakan rencana kerja untuk hari itu. Meski mereka pergi ke hutan dan ladang hanya untuk mengembala babi atau ayam.

Problema utama adalah mencerdaskan orang Mentawai, dan mendidik orang Mentawai yang akan membangun negeri mereka. Kemudian bagaimana membuka kesempatan untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka sendiri dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Konsekwensinya, setiap pendatang memiliki tugas rangkap sebagai transfor¬mator kemajuan dan alih ilmu pengetahuan.

Selain mengandalkan pendidikan,pendatang perlu mawas diri supaya jangan menjadi anasir penghasut di Mentawai.

Dengan sedikit sedih, Mas’oed menyatakan bahwa banyak yang berbi¬cara tentang Mentawai, tapi sangat sedikit yang berusaha memahaminya. Banyak yang berusaha mengetahui mentawai hanya dari cerita orang tanpa pernah melihat seperti apa adanya. Tidak terkecuali mereka di dunia akademis yang menghabiskan berlembar lembar makalah.

Mentawai dan tanah tepi bukan sesuatu yang baru. Hanya sebagian besar ‘orang tanah tepi’ baru terbuka matanya. Mentawai sebenarn¬ya tidak ‘tertinggal’, kita yang tertinggal memahaminya, demikian Mas’oed.

Sementara dari versi kebijaksanaan pemerintah membangun pulau terpencil, yang diseminarkan baru baru ini, oleh UNAND di Hotel Novotel Bukittinggi menekankan, membangun Mentawai tidak bisa disamakan dengan membangun kawasan lain, seperti tanah tepi. Bahkan Menko Polkam Soesilo Soedarman menilai Mentawai mempunyai sosio budaya yang khas. Sehingga pendekatan pembangunan di sana haruslah mengacu pada sosio budaya itu.

Aspek yang ditinjau para pengamat, selain potensi sosial budaya juga kekayaan alam kelautannya. Kayu dan lutungnya yang tidak ada di kawasan hutan lain di Indonesia, masih mengundang penelitian para ahli. Akan tetapi bisakah semuanya diteliti, bila belum paham dengan ekosistem secara komplek. Untuk itu selayaknya ban¬gunlah jiwanya jangan hanya membangun raganya.

KIPRAH DAKWAH DI MENTAWAI
Ketika Imanuel Menjadi Imanullah

TIDAK ada paksaan untuk orang memeluk Islam, demikian diung¬kapkan Ustaz Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh, ketika tabligh akbar, sebelum pensyahadatan 45 mualaf di Mesjid Nurul Iman Sioban, Kecamatan Sipora, pada Pekan Muhktadin IV tahun lalu.

Namun, kata Ristawardi, kalau sudah masuk Islam tidak boleh murtad atau keluar dari Islam, karena sudah terang mana yang benar dan salah.
Kalau keluar, berarti meneguk ludah yang telah dibuang. Sama dengan menumpang mobil, lanjutnya, apabila sudah naik, sekalipun tidak dapat tempat duduk, membayar tetap sesuai dengan tarif.

Maka penumpang yang ingin selamat jangan coba coba membayar tidak sesuai dengan tarif.
“Maka begitu juga memeluk Islam, kalau ingin selamat laksana¬kan perintah Islam dengan baik, jangan separoh separoh, meskipun seorang yang baru masuk Islam. Karena dengan sungguh sungguh itulah yang akan membawa keselamatan,” ujar Ristawardi, konselor agama Islam, PT Semen Padang itu.

Apa yang disampaikan Ustaz Ristawardi itu, tersemat mati dan kokoh dalam hati Imanullah yang dulu bernama Imanuel, seorang mualaf paling tua dan juga mantan kepala Suku di Mentawai dia¬ntara mualaf yang disyahadatkan malam itu. “Saya berjanji akan bersungguh sungguh melaksanakan agama Islam, meski umur saya sudah 70 tahun,” ujar Imanullah saat itu, ketika ditanya tentang motivasinya masuk Islam.

Imanullah, 70, mengaku masuk Islam tanpa ada pengaruh dan rayuan siapapun. Dia sudah mempelajari Islam sejak zaman Belanda. Ketika itu ia masih remaja. Dan di Mentawai saat itu sudah ada yang Islam. Selama itu, baru sekarang niat hatinya terujud untuk masuk Islam.

Imanullah sebelum disyahadatkan namanya Imanuel , Islam adalah ’syurga’ yang telah lama diimpikan. Di dalam Islam dia melihat banyak kemajuan dan ajaran yang memotivasi manusia untuk maju, yakni dengan ajaran jihad di jalan Allah Swt. Dia yakin dengan ajaran jihad, setiap yang dilakukan dalam kehidupan dini¬lai ibadah oleh Allah Swt. Dengan itu pula dia optimis Mentawai bisa maju seperti tanah tepi, karena ada motivasi untuk membangun yang diimbali dengan pahala. Selain itu,nan lebih dipujikannya adalah rasa persaudaraan (Ukhuwwah Red) yang tinggi.

Dalam Islam, kata Imanullah, susah senang dirasakan secara bersama sama. Kalau ada saudara seakidah yang miskin atau kekurangan harta, maka akan dibantu lewat zakat atau sedekah. Bahkan yang menarik, meski ada hak orang miskin dalam harta orang kaya, maka Islam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk meminta minta. Malahan, kata Imanullah seraya mengutip hadist nabi, tangan yang diatas lebih baik dari tangan dibawah. “Artinya orang yang memberi lebih baik di mata Allah dari yang menerima,” kata Imanullah mantan Kepala Suku di Matobek, Kecamatan Sipora.

Sebenarnya pada Pekan Muhtadin III, 1995, Imunullah sudah berniat mengingkrarkan diri masuk Islam. Namun karena malu dikhitan, dia masih ragu. Akhirnya, pada Pekan Muhtadin IV, perasaan malu itu telah dia buang. Setelah dikhitan oleh Tim Kesehatan BAZIS PT Semen Padang, di Puskesmas Kecamatan Sipora di Sioban, dia merasa lega, cita citanya untuk bergabung dengan Islam tercapai sudah.

“Rupanya khitan yang sebelumnya saya anggap sakit, ternyata tidak demikian,” katanya gembira.

Dalam keluarganya, Imanullah yang memiliki tato, sebagai seorang ayah yang juga Kepala Suku, tidak bersikap keras terhadap anak anaknya. Dia mempunyai lima orang anak, dua orang perempuan dan empat orang laki laki. Satu orang diantaranya anak ketiga sudah masuk Islam bulan Juli 1995. Dengan, masuk Islam anak yang ketiga itu, dia bisa mempelajari perubahan yang terdapat dalam diri anaknya setelah masuk Islam. Karena itu pulalah semakin padat hatinya untuk mengucapkan kalimah syahadat.

“Terus terang, setahun saya melihat anak saya dalam ‘pelukan’ Islam, setahun itu saya merasa tersanjung sebagai ayah. Ada rasa kebanggaan bagi diri saya terhadap dirinya. Akhlaknya kepada saya sangat baik, ” katanya.

Selain itu, anak Imanullah yang keempat merupakan sarjana beraagama lain. Namun ketika dia menyampaikan akan memeluk Islam, dia mengucapkan selamat. Ketika ditanya, apakah dia berniat mengislamkan seluruh anggota keluarganya? Imanullah menjawab tergantung hidayah Allah Swt kepadanya.

Melihat keikhlasan hati Imanullah masuk Islam, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Perwakilan Sumatera Barat Kantor Padang H. Masoed Abidin dan Ketua BAZIS PT Semen Padang Ir. Khairul Nasri meneteskan air mata haru. “Orang tua renta masih ingin masuk Islam, kita sudah dari kecil memeluk Islam kadang kadang suka mengabaikannya,” kata Masoed.

Profil Dakwah di Mentawai

Posted in Buku Buya, Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai, Mentawai on April 26, 2008 by Buya Masoed Abidin

Kiprah Dewan Dakwah di Mentawai

Profil Dakwah Komprehensif

Oleh : Syaiful Yazan

Beberapa motivasi dan konsepsi ideal menjadi pendorong kiprah Dewan Dakwah di Mentawai, yang kalau dikaji dan dibahas, semua bermuara pada warisan pemikiran-pemikiran dan taushiyah  Allah yarham Dr M.Natsir.

Tulisan ini tidak bermaksud mengulas semua warisan tersebut, terutama karena berbagai keterbatasan penulis, baik sebagai pengamat maupun sebagai praktisi, serta keterbatasan waktu untuk itu.

Tulisan ini bertolak dari bahan-bahan yang diambil dari pengalaman dakwah al-mukarram H Mas’oed Abidin tentang semua kiprah Dewan Dakwah di Mentawai, khususnya dari buku “Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai, 30 tahun Perjalanan Dakwah Ilallah, Mentawai Menggapai Cahaya Iman 1967-1997.”

Tulisan ini mencoba menampilkan profil (penampilan/performance) dakwah dengan memilih titik-titik prima yang muncul setelah 30 tahun kiprah itu berlangsung. Bagian awal mencoba “menjelas-kan” profil dakwah yang ditampilkan, kemudian mengulas sedikit garis besar keunggulan dan hasil kiprah dakwah yang fenomenal, melalui profil ketiga pilar utama.

Ada tiga pilar utama yang menjadi profil kiprah Dewan Dakwah di Mentawai. Ketiganya berjalin berkulindan menampilkan profil dakwah yang komprehensif.

Pilar pertama menjadi centre of excellence, pusat konseptual kiprah yang diperani dengan baik oleh Dewan Dakwah Sumbar di Padang. sebagai pusat penggerak konseptual, DEWAN DAKWAH Padang menjadi penyangga utama seluruh kiprah tersebut. Dewan Dakwah Padang merajut dan merakit seluruh potensi Muhsinin. Membagi peluang kepada mereka menyalurkan potensi ZIS (zakat, infaq, sadaqah)  ke dalam jaringan dakwah ilallah di Mentawai, kemudian merakit potensi dai di lapangan untuk mewujudkan semua kiprah dakwah tersebut.

Pilar kedua, centre of action,  pusat aksi kiprah dakwah yang diperani oleh para mujahid dakwah yang militan, tahan uji. Tanpa mujahid dakwah yang bisa diandalkan, tanpa militansi di lapangan, semua usaha Dewan Dakwah dan potensi para Muhsinin akan hanyut mubazir, bagai menuang air di gurun pasir.

Pilar ketiga adalah tulang punggung (back bones) semua kiprah tersebut, yaitu para muhsinin, donatur, sumber dana baik lembaga, instansi, jamaah masjid, perorangan. Para muhsinin yang tersebar sampai ke seluruh Nusantara bahkan sampai ke Timur Tengah.

Sketsa satu:

 

 

      

 

 

Ada beberapa penampilan/performance yang perlu dicatat dari ketiga pilar. Penampilan ini menjadi modal utama yang menyangga kelanjutan keseluruhan kiprah. Penampilan yang jadi modal utama tersebut adalah:

 

Pertama, kemampuan membentuk kepercayaan para muhsinin, sehingga semua “pengaduan” kebutuhan program Dewan Dakwah tersahuti dengan segera. Pembentukan kepercayaan tergantung pada figur pimpinan dan pengurus Dewan Dakwah, serta militansi para mujahid dakwah.

 

Kedua, jaringan informasi dan koordinasi yang erat antara ketiga unsur, Dewan Dakwah, para dai dan para muhsinin.

Jaringan yang sudah terbentuk selama tiga puluh tahun tersebut membuat seluruh komponen saling merasakan denyut nadi semua unsur yang terkait.

Komunikasi formal tidak lagi menonjol. Yang paling terasa adalah keterkaitan rasa antar komponen, sehingga seluruh potensi yang terlibat bagaikan sebatang tubuh yang utuh.

 

 

Ketiga, militansi para mujahid dakwah, sehingga dengan fasilitas yang sangat minim mampu bertugas   dengan meyakinkan. Dibanding dengan para pater dan pastor dan suster Salibiyah, fasilitas dan kondisi para dai sangat jauh dari cukup.

Namun dengan militansi mereka, hasil perjuangan mereka melewati angka-angka yang dijangkau missi Salibiyah.

 

 

Keempat, jalinan fastabiq al khairat,  semacam kompetisi positif 

Muslimin dalam menjalankan misi dakwah di Mentawai. Semua untuk Islam, semua untuk dakwah, tanpa menonjolkan bendera-bendera organisasi maupun lembaga.

Kondisi ini membawa iklim senasib sepenanggungan para mujahid yang berjuang di lapangan, walaupun masing-masing berasal dari  sumber yang berbeda. Kondisi ini melahirkan profil Islam yang satu (umatan wahidah). Hal yang sebaliknya terjadi pada beberapa anggota misi Salibiyah yang saling iri dan bersaing dengan anggota atau kelompok misi  salibiyah lainnya.

Kelima, government relationshipness yang baik. Hubungan dan nama baik seluruh unsur, terutama Dewan Dakwah, dengan  pemerintah, menjadi profil yang sangat menguatkan semua kiprah.

Citra dan nama baik membuat birokrasi “melapangkan jalan” unsur-unsur yang sedang berjuang. Tanpa citra dan nama baik Dewan Dakwah dan pelaksana, maka pemerintah/penguasa bisa menjadi batu sandungan bahkan  penghalang semua program.

Keenam, beberapa visi atau cara pandang ideal yang membawa warna jihad, seperti  dakwah ilallah,  pegawai gaji akhirat (PGA), dakwah untuk menghidupi umat bukan dakwah untuk mencari hidup, mujahid dakwah, dai pejuang, berjihad di jalan Allah. 

Semua visi tersebut menjadikan  kiprah dakwah secara keseluruhan punya pijakan kokoh. “Kami ingin berjihad!” demikian salah satu ungkapan lugu para dai. Tapi sesungguhnya, itulah pijakan yang paling kokoh. Sebuah gerakan besar, apalagi untuk social change, untuk perubahan sosial, memerlukan visi ideal sebagai pijakan. Tanpa visi semua akan terombang-ambing.

Ketujuh, para Muhsinin yang sangat dermawan.

Sebagai salah satu profil penting gerakan dakwah di Mentawai adalah para muhsinin yang sangat dermawan. Banyak yang tidak mau menyebutkan nama. Mereka lebih suka menyebut identitas hamba Allah untuk setiap bantuan yang diserahkan.

 

Sketsa dua:

 

 

 

 

Posisi sentral Dewan Dakwah Padang tidak terlihat mendominasi, karena komponen lain punya independensi/kemandirian, kekuatan dan yang tidak dibatasi oleh Dewan Dakwah.

Sebagai contoh, donatur dapat berhubungan langsung dengan para muhtadin, menyerahkan bantuan ZISnya tanpa campur tangan Dewan Dakwah. Dewan Dakwah hanya merekomendasikan si-A sebagai muhtadin yang perlu dibantu, silahkan donatur menerima dan menilai sendiri si-A tersebut dan memberikan bantuan tanpa harus melalui tangan Dewan Dakwah.

Kondisi ini memberi peluang besar bagi tumbuhnya  citra baik, nama baik, dan kepercayaan para muhsinin.

Visi ideal yang disandang oleh Dewan Dakwah, terutama dengan warisan-warisan Dr. M.Natsir, menumbuhkan hubungan batin  antara empat komponen utama, yaitu  Dewan Dakwah, para dai, para muhsinin dan para muhtadin di Mentawai.

Hubungan batin yang terbentuk akan menimbulkan semangat juang yang besar. Seorang pengusaha, H Zulkarnain Dt Sati menjadi profil seorang muhsinin ideal. Berani meminjamkan bahan bangunan berjuta rupiah tanpa menaikkan harga, untuk membangun masjid. Borg,  atau jaminan semua itu hanya kepercayaan terhadap Dewan Dakwah, dalam hal ini figur H Mas’oed Abidin.

 

Keberanian H Zulkarnain terbentuk karena kepercayaan dan hubungan batin. Ujungnya adalah kesiapan berjuang dengan seluruh kemampuan. Profil lengkap muhsinin ideal belum mungkin di tampilkan dalam sketsa karena butuh pengkajian lebih mendalam (penelitian).

Jumlah muallaf baru yang mengucapkan syahadat dari waktu ke waktu sangat fenomenal, mencolok. Hal ini terbentuk antara lain karena hubungan batin, kesungguhan dan kegiatan yang kontinu Dewan Dakwah.

           

Mujahid dakwah di Mentawai mempunyai militansi berkat visi ideal dan pengalaman lapangan. Visi ideal sebagai bekal dari Dewan Dakwah, menjadi motiv intrinksik, pendorong dari dalam diri dai dalam bertugas.  Sementara pengalaman lapangan menjadi motiv ekstrinksik,  pembentuk dan pendorong dari luar. Motiv ekstrinksik ini berkembang sepanjang perjalanan tugas sang dai.

Militansi, semangat pantang menyerah, adalah profil utama dai Mentawai. Sekedar contoh, ada dai yang harus berenang mengarungi sungai untuk menemui muallaf binaannya, karena ketiadaan angkutan. 

Di samping itu ada semangat fastabiq al khairat dengan lembaga dan dai lain. Ada kerjasama yang baik dengan pimpinan formal camat, koramil, dan kepala desa maupun pimpinan informal kepala suku, dan perangkatnya mapun sikere, dukun suku.

Dai memiliki citra baik dai di mata masyarakat, khususnya di mata muhsinin, dermawan atau donatur, serta citra baik di mata masyarakat Mentawai tanpa kecuali, beragama Islam ataupun agama lain.

Citra baik di mata masyarakat ini terbentuk karena pola  integral  yang dilakukan dai, di mana seluruh masyarakat diperlakukan sama.  Misalnya dalam pembagian hewan qurban waktu Idul Adha, seluruh anggota masyarakat memperoleh tanpa kecuali. Hal ini kemudian berbuah jadi partisipasi. Masyarakat yang belum Islam dengan suka rela akan ikut bergotong royong jika ada keperluan Islam, seperti pembangunan mushalla dan lain-lain.

Para muhsinin melihat citra baik para dai. Tumbuh kepercayaan sejalan dengan meningkatnya kiprah dakwah secara keseluruhan. Kepercayaan berbuah bantuan-bantuan ZIS. Pada ujungnya terbentuk jalinan hubungan batin antara para muhsinin dengan dai.

Profil pilar kedua, para dai, para mujahid dakwah, terutama dalam menghadapi kehidupan  secara keseluruhan, terlihat dalam sketsa berikut.

 

Sketsa  tiga.:

 

                                                                                                                           

 

 

Makalah dipresentasikan dalam: Rapat Kerja Daerah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Riau di Pekanbaru, Hotel Rauda, oleh Syaiful Yazan IAIN Imam Bonjol Padang.

SIPORA Gugus Tengah Kepulauan Mentawai, Tigapuluh Tahun Dakwah “Islam dalam Pelukan Muhtadin Mentawai”, sebuah perjalanan dakwah

Posted in Buku Buya, Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai, Mentawai on April 20, 2008 by Buya Masoed Abidin